Jumat, 27 Februari 2015

Batik Cirebon - Rumah Mode Australia Terkesima Koleksi Batik Indonesia


Batik Cirebon - Meski jalinan diplomatik Australia serta Indonesia tengah tegang lantaran masalah hukuman mati, tetapi kecintaan pada budaya RI terus hidup. Sebelumnya setelah, Paviliun Indonesia ramai dikunjungi warga Negeri Kanguru waktu Festival Nasional Multikultur, kesempatan ini beberapa ratus undangan terbatas menghadiri pagelaran baju di Gedung KBRI.
Sekian isi siaran pers dari KBRI Canberra pada Jumat, 27 Februari 2015. Keseluruhan, 180 undangan terbatas yang terbagi dalam beberapa penggemar serta pengamat mode, entrepreneur, duta besar serta media ada melihat acara itu.
Tetapi, yang khusus dalam pagelaran baju kesempatan ini, KBRI Canberra menggandeng rumah mode populer dari Australia, Perri Cutten. Kerjasama yang indah terwujud saat dalam satu runaway beberapa jenis memperagakan pakaian koleksi musim gugur serta dingin dipadukan dengan syal batik khas Indonesia.
Batik Cirebon - "Seputar enam syal batik punya koleksi pribadi istri Duta Besar, Nino Riphat Kesoema, dipadankan dengan gaun koleksi Perri Cutten, " catat KBRI.
Diluar itu, ikut dipertunjukkan 8 baju daerah yaitu dari Batak (Sumatera Utara), Lampung, Jawa Tengah, Sunda (Jawa Barat), Dayak (Kalimantan Tengah), Bali, Makassar (Sulawesi Selatan) serta Pulau Sumba. KBRI ikut mengadakan pameran tekstil yang menghadirkan beragam kain nusantara dan pameran kuliner.
"Sembari nikmati beragam camilan, beberapa tamu juga dimanjakan dengan suguhan merdu musik gamelan serta minikmati miniatur Indonesia di Rumah Budaya Indonesia, " tutur KBRI.
Batik Cirebon - Menurut Dubes RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema, peragaan baju ini bukan sekedar mempunyai tujuan untuk mempromosikan kekayaan serta keindahan kain nusantara.
" Tetapi juga untuk merayakan perpaudan budaya Indonesia serta Australia yang unik melalui fashion, " tutur Nadjib.
Bekas Dubes RI untuk Kerajaan Belgia itu mengharapkan Perri Cutten bisa menerapkan motif batik dalam koleksi mereka.
Kepala Desainer, Perri Cutten, Penelope Loorham terkesima dengan baju daerah yang diperagakan oleh beberapa jenis.
" Kostum yang sangatlah elegan serta karya seni yang mengagumkan, " tutur Loorham yang sudah jadi desainer untuk Perri Cutten sepanjang 16 th. ( Batik Cirebon)

Kamis, 26 Februari 2015

Batik Cirebon - Kerajinan Alat Canting Batik Tetap Dilestarikan


Batik Cirebon - Perajin "canting" yang digunakan untuk bikin batik catat khas Indonesia di Kampung Joyotakan Kecamatan Serengan Solo, Jawa Tengah, sampai saat ini terus bertahan manfaat melestarikan alat tradisional yang turun alami penurunan dari nenek moyangnya.
Seseorang perajin canting, Catur Haryantpo (35) warga RT 02 RW 04 Joyotakan Serengan Solo, Kamis, menyampaikan keluarganya juga sebagai perajin " canting " di Kota Solo ini, telah turun-temurun dari nenek moyangnya seputar th. 1950-an sampai saat ini.
"Saya telah generasi ke empat meneruskan orang tuanya, Pak Tukul yang telah di kenal hanya satu perajin " canting " batik di kota ini, " kata Catur Haryanto.
Batik Cirebon - Menurutnya, dianya meneruskan juga sebagai perajin canting dari orang tuannya, mulai sejak 2013 sampai saat ini serta tenaga kerjanya cuma tiga orang saja, serta kemampuan produksi seputar 2. 000 biji alat " canting ".
Ia menuturkan, canting adalah alat tradisional yang dipakai untuk mengambil cairan yang khas dipakai untuk bikin batik catat, kerajinan khas Indonesia. " Canting " tradisional untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas atau malam bahan bikin batik catat.
"Canting ini, alatnya kecil yang terbuat berbahan baku tembaga serta bambu juga sebagai pegangannya untuk membatik, " tuturnya.
Batik Cirebon - Menurutnya, jumlah perajin di Solo dulu ada tiga orang termasuk juga keluarganya, namun saat ini yang bertahan cuma satu di kota ini, yaitu pengrajin" Canting Tukul " di Joyotakan.
Ia menuturkan, hasil produknya banyak datang pesanan dari sekolah-sekolah serta beberapa perajin batik catat baik dengan cara peorangan ataupun grup atau kantor atau lembaga. Jumlah keinginan alat " canting " batik ini, rata-rata seputar 3. 000 biji per bln..
"Kami jual canting batik ini, cuma seharga Rp2. 000 per biji tanpa ada gagang pegangan, serta Rp3. 500 per biji lengkap, " tuturnya. Bahkan juga, alat canting batik yang memiliki ukuran besar dapat di jual seharga Rp7. 000 per bijinya bergantung pesanan.
Batik Cirebon - Menyinggung masalah bahan baku tembaga di Kota Solo, Catur Haryanto menuturkan, tak ada masalah lantaran pasokan cukup lancar serta senantiasa ada cukup.
"Kami cuma terkendala dana untuk dapat meningkatkan usahanya serta melestarikan alat tradisional canting itu. Kami mengharapkan pemerintah dapat menolong dana untuk meningkatkan usahanya, " tuturnya.
Catur Haryanto menuturkan, langkah bikin alat canting itu bermula dari lembaran tembaga dipotong-potong sesuai sama ukurannya. Lembaran tembaga lalu ditipiskan lewat cara dipalu, serta lalu dipanaskan di bara api untuk mempermudah membuat alat canting.
Alat canting yang telah dibuat lalu dipatri agar lengket serta tak bocor, dan diampelas dalam penyelesaian akhir.
Menurutnya, kelebihan alat canting dengan bahan tembaga yaitu cucuk cukup lentur serta bahan malam untuk membatik tahan panas. Demikian sebaliknya, bila bahan kuningan malam cepat dingin serta gampang cucuk canting jadi buntu hingga cairan tak dapat mengalir dengan baik.( Batik Cirebon )

Rabu, 25 Februari 2015

Batik Cirebon – Raih Untung di Pusat Batik Nusantara

 Batik Cirebon - Hadirnya beberapa pengrajin batik di Jakarta juga sebagai pusat usaha serta perdagangan sudah pasti memudahkan serta mendekatkan hubungan pengrajin serta customer batik di ibukota.
Pusat Batik Nusantara (PBN) selalu berkembang, masuk umur lima th. kemunculannya di pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta.
Juga sebagai pusat batik terlengkap, PBN sediakan beragam jenis baju batik, kain batik serta beberapa barang bermotif batik dari beragam daerah di Nusantara.
Kesibukan perdagangan juga telah mengajak 950 pengrajin atau pedagang batik yang sampai kini kesusahan akses pasar.
Batik Cirebon - Public Relation and Promotion Manager Thamrin City, Lucy Ratna menyampaikan, momentum lagi th. ke lima di bln. Februari 2015 untuk penguatan serta penambahan PBN juga sebagai pusat perdagangan batik paling besar serta terlengkap.
Menurut Lucy, mulai sejak awal kepedulian Thamrin City pada UKM serta usaha pelestarian batik juga sebagai warisan budaya bangsa diwujudkan lewat PBN dengan merangkul pengrajin serta entrepreneur kecil yang tempati tempat di lantai basic 1, lantai basic serta lantai 1 Thamrin City, Jakarta.
Sampai masuk lima th. ini, kata Lucy, PBN telah mendatangkan beragam pengrajin batik yang datang dari Pekalongan, Yogyakarta, Bantul, Lasem, Solo Raya, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Purbalinggga, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep, serta Jepara. Demikian pula dari Papua, Kalimantan Selatan serta Padang.
Batik Cirebon - Hadirnya PBN, lanjut Lucy, terkecuali menjembatani kebutuhan pengrajin serta pedagang dengan orang-orang pemakai batik, Thamrin City juga lakukan edukasi pada generasi muda Indonesia agar lebih menanamkan kecintaan pada batik.
Batik Cirebon - Berkembangnya usaha serta keuntungan berdagang di PBN disadari Hetty Dwi Hendrarti, yang memiliki toko batik Rizkya Batik Solo di lantai basic Thamrin City.
Diakuinya, usaha dagang batik Solo yang dijalakannya mulai sejak th. 2009 selalu berkembang di PBN. Saat ini, Hetty telah mempunyai lima gerai atau toko batik di Thamrin City.
“Mulainya hanya mempunyai satu lapak saja, saat ini telah mempunyai lima toko di sini, ” katanya.
Disebutkan Hetty, bermacam batik Solo di jual dengan harga beragam, dari mulai Rp 100. 000 sampai Rp 1, 5 juta per piece. Sampai sekarang ini, penjualan batik condong semakin ramai, termasuk juga masuk th. 2015 ini.
“Hingga th. 2015 ini penjualan batik makin ramai di kunjungi konsumen, terlebih ditopang oleh keringanan akses ke tempat Thamrin City yang strategis di pusat kota Jakarta” ucap Hetty. Disadari Hetty dari penjualan batik per bln. dianya dapat mencapai omset penjualan sampai sebesar Rp 500 juta.
Keuntungan berupaya dagang batik di Thamrin City juga disadari Rudi Alfayed, yang memiliki toko batik Ekspose di lantai basic 1 Thamrin City yang jual bermacam type batik Jawa Barat.
“Kita jual bermacam batik Jawa Barat dari harga Rp 60. 000 sampai Rp 1, 5 juta, ” tutur Rudi.
Rudi mengaku, masuk th. 2015 ini, penjualan bermacam batik Jawa Barat dari beberapa toko kepunyaannya di Thamrin City mulai ramai dengan omset rata-rata meraih Rp 450 juta sampai Rp 500 juta satu bulan. “Lokasi Thamrin City yang strategis di pusat kota Jakarta serta harga batik yg tidak terlalu mahal bikin orang pilih berbelanja di sini, ” kata Rudi. ( Batik Cirebon )

Minggu, 22 Februari 2015

Batik Cirebon - Batik Bangkalan Tidak Diimbangi Pabrik Tekstil


Batik Cirebon - Product batik Madura khas Bangkalan, Jawa Timur, masih tetap jadi komoditas unggulan daerah itu. Sayangnya perkembangan industri batik Bangkalan tidak diimbangi dengan kehadiran pabrik tekstil. Sampai pada akhirnya, harga batik Bangkalan terbilang mahal. Product
Nama batik madura khas Bangkalan tidak cuma bergema di pasar domestik. Namanya juga mulai di kenal di pasar internasional. Pemerintah kabupaten juga mulai memperhatikan industrinya.
Tetapi harga jualnya kalah berkompetisi dengan batik dari lokasi lain di Indonesia. Harga paling murahnya Rp60 ribu selembar. Sesaat harga paling mahal dapat meraih Rp25 juta per helai, untuk type batik Gentongan.
Batik CirebonPengrajin batik mengakui biaya produksi mahal. Argumennya, mereka menghadirkan kain dari luar lokasi Bangkalan.
"Kami untuk kain sampai kini menghadirkan dari beragam lokasi mas, umumnya sih dari Surabaya atau terkadang dari Pekalongan. Jadi harga kain jadi lebih mahal demikian dengan juga harga batiknya, " tutur Rofiah, seseorang pengrajin batik asal Desa Telaga Biru, Tanjung Bumi, Bangkalan, Minggu (22/2/2015) siang.
Beberapa pengrajin, kata Rofiah, memerlukan pabrik tekstil di daerah Bangkalan. Hingga cost produksi bisa ditekan serta harga jual kain batik juga lebih terjangkau
"Kita kan masih tetap mesti menghadirkan dari lokasi luar, hingga harga kain jadi sangatlah mahal. Lain seperti solo serta pekalongan yang mempunyai pabrik kain sendiri hingga harga batik mereka tambah lebih murah, " terangnya.
Batik Cirebon - Kepala Bagian Fasilitas serta Produksi Industri Dinas Perindustrian serta Perdagangan Kabupaten Bangkalan, Iskandar Ahadiyat, juga mengerti permasalahan itu. Ia mengaku industri tekstil terkendala dengan tak ada pabrik kain di kabupaten itu.
Karena itu, Iskandar mengimbau pengrajin bisa menonjolkan ciri khas lain untuk kurangi harga produksi. " Harapan kami untuk pengrajin dapat lebih kreatif meningkatkan motif serta corak. diluar itu, pengrajin juga diharap dapat sesuaikan pasar terutama permasalahan harga, lantaran di ketahui berbarengan bahan baku batik masih tetap dihadirkan dari daerah luar. Spesial berkenaan muatan lokal, saya himbau agar beberapa pengrajin tak menyingkirkan ciri khas kedaerahan, terus batik catat dengan bahan alami janganlah printing, " harapnya.
Ahadiyat menyampaikan pengrajin batik di Bangkalan meraih lebih 2. 000 orang. Jumlah itu bertambah di banding empat th. lantas yang cuma sejumlah 1. 200 orang.
Mengerti kekurangan itu, Iskandar berikan peluang pada investor untuk membangun pabrik tekstil di Bangkalan. Tetapi tentu, pembangunan pabrik tekstil mesti mengantongi izin dari pemerintah setempat. ( Batik Cirebon )

Sabtu, 21 Februari 2015

batik cirebon
Batik Cirebon - Dalam kunjungan resmi pertamanya berbarengan Puteri Indonesia 2015 yang baru dipilih, Anindya Kusuma Putri, Miss Universe 2014 Paulina Vega tampak kenakan gaun batik khas cirebon dengan design modern.
Didapati di Pendopo Living World Alam Sutera, Tangerang, Sabtu (21/2/2015), keduanya kenakan gaun batik dengan rancangan moderen keluaran Batik Muda. Motif batik yang diambil keduanya yaitu Batik Cirebon.
Batik Cirebon - "Sesungguhnya terdapat banyak pilihan baju yang akan kami gunakan hari ini. Saya sempat juga bingung memilihnya. Namun selanjutnya saya pilih baju ini lantaran terkecuali motifnya menarik, rancangannya juga sederhana serta mempermudah gerakan saya namun terus tampak modis serta anggun, " kata Paulina Vega saat di tanya Liputan6. com tentang baju pilihannya itu.
Batik Cirebon - Gaun batik bermodel A-Line dengan detil renda emas dibagian dada serta tepian bawah jadi pilihan Vega untuk dikenakan selama seharian ini. Ia tampak terasa nyaman serta bebas bergerak dalam baju itu.
Vega menggabungkan gaun batiknya itu dengan sepatu heels emas berbuntut lancip dan suatu arloji berwarna seirama. Keseluruhnya penampilannya tampak menyatu dengan warna kulit serta rambutnya yang cokelat emas. Cantiknya! ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon - Batik Abstrak Bandung Tembus Eropa


Batik Cirebon - Batik abstrak Bandung, Jawa Barat yang dikenalkan oleh Tetet Cahyati selain diminati pasar Asia juga sukses menembus pasar Eropa yakni di Praha, Republik Ceko.
"Batik abstrak ini diminati orang-orang di Praha, diluar itu juga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan India, " kata Tetet Cahyati di Depok, Jumat (20/2).
Ia menuturkan batik abstrak ini adalah gabungan pada lukisan, lagu serta puisi. Batik juga selalu berkembang sesuai sama zaman, kain khas Indonesia serta warisan budaya bangsa itu selalu berevolusi serta berkembang.
Batik Cirebon - Wanita asal Bandung ini menyampaikan juga bahwa batik abstrak yang indah serta menawan jadi ciri khas. " Inspirasi ini bermula dari kecintaan saya pada seni lukis. Saat sebelum membatik saya sukai bikin lukisan, menulis lagu serta puisi, " tuturnya.
Tetet mulai membatik pada 2007 serta melukis mulai sejak 2005. " Mulai sejak kecil saya memanglah sukai melukis lantaran ke-2 orangtua saya yaitu pelukis, yaitu Popo Iskandar serta Djuariah Iskandar, " katanya.
"Awalannya saya iseng saja bikin sebagian potong lalu banyak yang sukai serta pada akhirnya jadikan usaha. Penyuka batik saya tidak cuma dari kelompok ibu-ibu tetapi ada pula dari kelompok remaja, " tuturnya juga.
Batik Cirebon - Ia menuturkan lagi bila pembuatan kain batiknya masih tetap memakai langkah tradisional dengan memakai dicanting, lalu tiga kali alami sistem pencucian serta dijemur. " Untuk bikin batik catat 100 % prima itu susah, lantaran ini kan masih tetap memakai canting. Satu bahan dapat usai sampai tiga minggu serta membuahkan 30 sampai 50 potong, " tuturnya.
Tetet mengatakan, batik abstrak hasil karyanya sudah dipatenkan pada 2008, dengan harga yang di tawarkan beragam dari mulai Rp 100 ribu sampai Rp 2, 5 juta per mtr..
Kain batik abstrak Tetet untuk di Indonesia telah digunakan oleh sebagian tokoh, diantaranya Ari Sudarsono, Mutia Hatta, Dewi Motik, Megawati Soekarno Putri, Linda Gumelar, dan sebagainya. ( Batik Cirebon )

Kamis, 19 Februari 2015

Batik Cirebon - Yogya Akan Gelar Olympiade Batik Lewat Danais

Batik Cirebon - Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan serta Aset (DPPKA) DIY Bambang Wisnu Handoyo mengusulkan penyelenggaraan Olympiade Batik lewat Dana Keistimewaan (Danais). Itu untuk menindaklanjuti penghargaan Yogyakarta juga sebagai Kota Batik Dunia, 23 Oktober 2014 lantas.
"Mengapa tak buat Olympiade Batik? Kita ini telah bisa penghargaan namun tak ditindaklanjuti dengan karya besar, " kata Bambang selesai rapat pra-Musrenbang berbarengan Gubernur di Kompleks Pemda DIY, Rabu (18/2/2015).
Batik Cirebon - Menurut Bambang, perhelatan besar sejenis itu dapat berguna untuk pembatik ataupun perkembangan industri batik Yogya. Harapannya, nilai investasi Yogya juga turut terkerek.
"Yang utama bagaimanakah perajin batik jadi lebih sejahtera, " pesan Sri Sultan HB X sebentar sesudah Yogya menyabet penghargaan itu th. lantas.
Batik Cirebon - Usulan itupun nampak sesudah Bambang mendengar keluhan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwana X waktu rapat. Sepanjang tiga th. jalan, tidak satupun program kelebihan yang beresiko besar ke orang-orang.
"Saya terpukul benar, seperti pak Sekda juga terpukul. Pak Gubernur katakan, (sampai kini) tidak ada program besar. Cuma ada program ecek-ecek. Pelatihan-pelatihan, " ungkap birokrat pengagum batu akik itu. ( Batik Cirebon )

Rabu, 18 Februari 2015

Batik Cirebon - Imlek, Batik Motif Naga di Buru Pembeli


Batik Cirebon - Perayaan Imlek th. ini, beberapa perajin batik catat di Blora mulai kebanjiran order pesanan. Pesanan yang di terima umumnya inginkan motif batik yang memiliki nuansa imlek, seperti naga dan buah naga. Hingga motif batik yang di buat oleh beberapa perajin biasanya sekitar naga serta buah naga.
“Sejak awal Januari lantas banyak yang pesan untuk dibuatkan kain batik dengan motif naga, ” kata yang memiliki rumah batik Mustika Art Galeri Hurip Indiyani.
Menurut dia mereka yang pesan banyak datang dari etnis keturunan tiongha yang ada di Blora, tetapi orang-orang juga banyak yang pesan motif naga itu. batik memiliki nuansa imlek itu, nanti bakal dipakai waktu perayaan, dan aktivitas yang lain yang masih tetap memiliki nuansa imlek.
Batik Cirebon - Untuk motif lanjutnya memanglah yang pilih yaitu pemesan ingin dibuatkan motif yang seperti apa. Tetapi lantaran peristiwa imlek, banyak yang meminta gambar naga, dan lampion-lampion. Motif itu lalu digabungkan dengan motif tunjukkan ciri khas Blora, seperti akar jati serta motif yang lain yang telah ada tetapi tak meninggalkan ciri khas batik Blora.
“Sesuai nuansa imlek untuk warna yang menguasai yaitu warna merah dan hitam, serta ada yang meminta warna biru, ” katanya.
Batik Cirebon - Dia mengungkap lantaran seluruhnya di buat dengan tangan, hingga mengonsumsi saat yang lama serta pemesan mesti lakukan pemesanan jauh-jauh hari. Sesudah lihat sebagian kain yang telah jadi, akhirnya cukup bagus serta sangatlah menarik, karena warnanya sangatlah cerah.
Sampai sekarang ini sebagian karyawan yang ada dirumah produksinya masih tetap repot bikin gambar naga, karena banyakn yang di buat dengan tangan. “Imlek kesempatan ini cukup bagus serta ramai, ” tuturnya. ( Batik Cirebon )

Selasa, 17 Februari 2015

Batik Cirebon - 3 Faktor Selamatkan Batik Tradisional dari Kejatuhan

Batik Cirebon - Munculnya batik printing atau batik pabrikan, memukul industri batik tradisional dengan cukup telak. Beruntung, tiga faktor ini, yaitu tindakan UNESCO yang menjadikan batik sebagai warisan dunia bukan benda, serta kebijakan pemerintah mewajibkan PNS berbatik setiap jumat dan kebijakan sekolah mewajibkan siswanya berbatik tiap pekan, membuat industri batik tradisional tetap berkibar.
"Sangat terasa akibat dari adanya batik industri (batik printing), karena selain harganya lebih murah, motifnya juga beragam, tak kalah dengan batik tradisional. Bahkan ada yang motifnya modern dan temporer, sehingga disukai kalangan generasi muda," jelas pengusaha batik tradisional Hani Winotosastro saat ditemui wartawan di home industrinya di Jl Tirtodipuran 54, Yogyakarta, Rabu (17/02/2015).
Menurut data, kain batik dari bahan mori dengan ukuran panjang 2,5 meter berharga antara Rp1-2 juta/lembar. Sementara yang terbuat dari sutra bisa mencapai Rp5 juta lebih/lembar, tergantung motif dan warna yang dipakai untuk memperindah motif tersebut.
Batik Cirebon - Batik kombinasi yang merupakan perpaduan antara batik cetak dan tulis, minimal berharga Rp125 ribu/lembar dengan ukuran 2,5 meter, tergantung jumlah warna pada motifnya.
Batik cetak minimal Rp100 ribu/lembar dengan ukuran 2,5 meter, tergantung motif, warna dan jenis kain yang digunakan. Harga batik industri (printing) bervariasi, namun kebanyakan dijual dengan harga di bawah Rp50 ribu/meter.
"Perbedaan harga ini membuat banyak masyarakat yang beralih ke batik industri," jelas Hani lagi.
Batik Cirebon - Ia mengaku bersyukur karena tindakan UNESCO menjadikan batik sebagai warisan dunia bukan benda, membuat citra dan gengsi batik tradisional terangkat, sehingga banyak kalangan yang kembali melirik batik tulis, cetak atau kombinasi.
"Kebijakan pemerintah mewajibkan PNS berbatik tiap Jumat, juga kebijakan soal batik di sekolah, juga membuat kami tetap bisa tetap eksis. Kami bahkan pernah terima order besar-besaran untuk membuatkan seragam batik anak sekolah," imbuhnya.
Putri pendiri GKBI (Gabungan Koperasi Batik Seluruh Indonesia) ini berharap masyarakat tetap mencintai batik tradisional karena ini warisan nenek moyang yang bahkan telah diakui di tingkat. ( Batik Cirebon )

Minggu, 15 Februari 2015

Batik Cirebon - Ensiklopedi Batik Jogja Masih Kurang Sosialisasi

Batik Cirebon - Tidak banyak yang tahu bila Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi serta Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta sudah menerbitkan suatu buku Ensiklopedi Batik Yogyakarta. Tetapi sayangnya, ensiklopedi ini masih tetap kurang dalam soal sosialisasi hingga tidak banyak orang-orang yang tahu.
Hal itu berdasar pada info dari Tri Karyadi Riyanto sebagai Kepala Bagian Pengembangan Sumber Daya Usaha Mikro Kecil serta Menengah Disperindagkoptan Kota Yogyakarta. Menurut dia, Ensiklopedi Batik Yogyakarta ini telah mulai disusun mulai sejak th. 2012 serta diterbitkan pada th. 2013.
Batik Cirebon - Tetapi sampai masuk th. 2015, pendistribusian buku setebal 84 halaman ini belum optimal.
"Sesaat ini Ensiklopedi Batik Yogyakarta baru kami berikanlah ke sebagian lembaga yang memerlukan serta SMP, SMA, dan SMK negeri saja, " kata Tri.
Sosialisasi yang masih tetap sangatlah terbatas, lanjut Tri, bikin Ensiklopdi Batik Yogyakarta ini kadang-kadang cuma jadi pajangan di rack perpustakaan intansi serta sekolah yang memperolehnya. Atas argumen tersebut, Disperindagkoptan mulai th. ini mulai mengintensifkan sosialisasi ke sekolah-sekolah serta beberapa pengrajin batik.
"Ke depan kami akan mensosialisasikan ke sekolah-sekolah swasta. Jadi tidak cuma sekolah negeri saja yang tahu perihal buku ini," katanya.
Batik Cirebon - Tri juga menjelaskan, untuk lebih memperkenalkan Ensiklopedi Batik Yogyakarta ini, ketika sosialisasi pihaknya juga menyisipkan sebagian materi lain. Kekurangan yang sampai kini berlangsung yaitu ensiklopedi batik Yogyakarta ini cuma ditempatkan ditempat yang sudah ditetapkan tidak ada inginalan selanjutnya.
Oleh karenanya, materi-materi seperti tehnik pewarnaan alam serta estetika dalam menggunakan baju batik juga turut dibicarakan dalam kegiatan.
Materi pewarnaan alami turut diikutkan dalam aktivitas sosialisasi untuk memberi pemahaman pada beberapa pengrajin batik bahwa pewarna alam lebih ramah lingkungan dibanding dengan pewarna kimia. ( Batik Cirebon )