Selasa, 13 Januari 2015

Batik Cirebon - Sejarah Batik Keratonan

Batik Cirebon - Batik keraton merupakan batik eksklusif yang hanya berada di lingkungan keraton saja. Dahulu, orang-orang di luar lingkungan keraton tidak bisa sembarangan mengenakan batk ini.
Kata batik berasal dari bahasa Jawa yaitu “Amba” dan “Titik”. Amba artinya menulis. Sejak dahulu pewarnaan batik di hasilkan oleh bahan malam yang di tulis di atas kain. Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke pulau jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanannya memunculkan Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.
Batik Cirebon - Batik sudah di kenal sejak abad 17, saat itu di tulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif batik masih di domonasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Setelah itu batik mulai berkembang, beralih ke motif abstrak menyerupai awan atau megamendung, relief candi, wayang beber dan sebagainya.
Bahan yang di pergunakan saat itu, yaitu kain putih merupakan hasil tenunan sendiri. Sedangkan pewarna untuk batik di ambil dari alam menggunakan pewarna alami, salah satunya dari pohon mengkudu. Juga garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Batik Cirebon - Kerajinan batik ini, di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke 18 atau awal abad ke 19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke 20. Sedangkan batik cap baru dikenal setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.
Batik Cirebon - Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja sehingga disebut batik keraton dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.
#Sejarah Motif Batik Keraton
Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris.
Batik Cirebon - Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain : Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat lar, Udan liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Batik Cirebon - Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan atara pola batik Keraton Kasultanan Yogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya. Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman yakni Pola Candi Baruna yang terkenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal antara lain Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barang Bintang Leider dan sebagainya. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon - Pemerintah Akan Melarang Impor Batik Cetak

Batik Cirebon - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan membuat memutuskan bahwa tidak mengizinkan impor batik cetak. Ini bermaksud untuk memastikan bisnis dan material item bahan (TPT) di negara ini.
"Pada kesempatan off bahwa mereka akan batik bahan saya dilarang dengan alasan bahwa jika masuk bahan batik Indonesia, industri percetakan kami akan menyampaikan," kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (13/01/2015) .
Mengingat tujuan akhir untuk mengambil setelah langkah-langkah ini, Rachmat mengakui dalam obrolan dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) AAGN Puspayoga, dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani . Dia dipercaya, barang-barang warisan sosial digunakan dalam berbagai kelompok pedesaan dijamin bahkan didorong ke kekuatan dekatnya, nasional dan di seluruh dunia.
Batik Cirebon - Rachmat mengatakan boikot tidak akan ikut campur dengan pertukaran antara negara-negara di tingkat dunia. Seperti pengaturan lokal yang dikenal suatu bangsa dapat diperdebatkan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) jika negara-negara yang berbeda masalah.
"Material mungkin dong (menghentikan impor) jika warisan tersebut kemudian di Indonesia. Kita mengatakan tidak seharusnya ada (impor). Namanya jika kita menjaga warisan sosial. Batik garis tidak seharusnya memiliki. Kemudian ia kehilangan cukup lama," katanya .
Dia percaya bahwa boikot impor dapat dipahami untuk tahun berjalan. Sebagai data, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor batik pada Januari-November 2013 mancapai 278 ton, sebanding dengan Usd5,1 juta.
Batik Cirebon - Selain itu, Rachmat mengatakan, akan juga memboikot impor impor pakaian digunakan. Seperti yang ditunjukkan oleh dia, merusak rumah tangga showcase dalam artikel industri pakaian.
"Bisa (supply) harus kanan mengingat fakta bahwa tidak ada kesempatan dan berdiri oleh impor yang melanggar hukum dari pakaian yang digunakan terutama ya dia diragukan mati. Sampai dia tidak bisa berkembang meskipun ini sehingga harus kita menjaga bisnis," dia mengatakan.
Rachmat termasuk, legislatif juga terlihat untuk memastikan warisan sosial, misalnya, ikat, songket, rezeki dan minuman item item alam, misalnya, rumah tumbuh farmasi. Hal ini juga diidentifikasi dengan bagian dari Departemen Perdagangan agar terkait Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 di kota.
"Saya melihat banyak barang-barang yang dibuat di negara ini. Misalnya, saya menganggap bahwa sederhana seperti batik, tenun ikat, songket, itu bnyak dibuat di kota. Aku menekan menghasilkan warisan sosial Indonesia, karena memasuki kelompok keuangan ASEAN pada kesempatan bahwa kita tidak memastikan item ini akan diambil orang, "ia selesai. ( Batik Cirebon )

Sabtu, 10 Januari 2015

Deddy Mizwar : Batik Cirebon dapat Jadi inspirasi bagi Daerah Lain

Batik Cirebon telah berkembang secara signifikan yang ditandai dengan keberadaan sentra industri batik. Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar menyatakan, pertumbuhan industri batik khas Cirebon dapat menjadi inspirasi bagi kota/kabupaten lainnya untuk mengembangkan industri batik khas daerahnya.
"Batik Cirebon dapat menjadi model dan inspirasi bagi perkembangan industri batik di Jabar," kata Deddy, akhir pekan lalu. Keberadaan Batik Trusmi sebagai sentra industri batik telah membuat Cirebon dikenal tidak hanya di Jabar tetapi juga di Indonesia. Bahkan, batik Cirebon telah dikenal hingga mancanegara. Motif batik yang khas menjadi salah satu faktor yang membuat batik Cirebon berkembang baik.
Sentra batik Cirebon pantas di jadikan percontohan untuk industri batik lain karena popularitasnya. Salah satu yang ikut meramaikannya adalah tentu saja dari motif batik mega mendung. Seperti beberapa hari yang lalu tentang kabar di klaimnya motif batik mega mendng dari Cirebon oleh turki, hal itu langsung membuat para netizen marah.
Marahnya netizen menggambarkan eksistensi dari mega mendung di Indonesia, bukan hanya orang Cirebonnya saja yang mengetahui, namun hampir semua orang di seluruh Indonesia bahwa megamendung adalah milik Cirebon, bahkan dunia pun mengetahui bahwa mega mendung adalah milik Indonesia, Cirebon terutama.
Sentra batik di Batik Cirebon sangat ramai sekali di kunjungi pada saat hari libur. Ini yang sepantasnya di contoh oleh pemerinah daerah pengrajin batik lain. Sentra pengrajin batik juga berperan untuk memberikan pekerjaan bagi warga daerah. Dengan ramainya sentra pengrajin batik dengan promosi yang tepat maka akan sangat menguntungkan, baik itu untuk pemerintah maupun untuk warganya sendiri.
Pemerintah perlu menjembatani antara usaha dengan pengrajin dengan cara melakukan promosi. Promosi sentra pengrajin batik bisa menggunakan tema pariwisata. Dengan promosi yang tepat dan pembangunan insftatrukturnya yang menunjang, maka bukan tidak mungkin hal itu bisa menumbuhkan persaingan antara daerah pengrajin batik. Dalam artian bukan persaingan negatif, melainkan persaingan dalam membangun insfrastruktur sentra batik agar semakin ramai di kunjungi dan di minati warga negara Indonesia.
 

Jumat, 09 Januari 2015

Motif Batik Cirebon Diklaim Turki, Perajin Tertawa

Batik Cirebon - Salah satu pengrajin batik asal Kabupaten Pekalongan, Amat Failasuf, langsung tertawa ketika mendengar kabar ramainya pembicaraan di media sosial ihwal batik bermotif megamendung khas Cirebon yang diklaim bangsa Turki.
"Warga dari berbagai belahan dunia yang paham tentang batik pasti juga tertawa kalau mendengar tentang klaim tersebut, karena ini ironis sekali," ujar pemilik showroom batik pesisir di Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa, itu pada Jumat, 9 Januari 2015.
Awalnya, kabar tentang batik megamendung yang di klaim Turki berawal dari foto yang di unggah seorang pengguna Path, Inggrid. Inggrid menyatakan, Foto batik megamendung berwarna biru dan hitam itu berlabel “Turki Limited Edition”.
Batik Cirebon - Dalam status akun Path-nya, Inggrid menuliskan blouse batik megamendung Cirebon itu dari butik Mark Spencer Champ elysees Paris. Dalam waktu singkat, foto tersebut menyebar di Path, Twitter, dan Facebook dengan beragam komentar yang mengekspresikan kemarahan.
"Kita sudah biasa seperti itu, baru kebakaran jenggot setelah karya anak bangsa diklaim bangsa asing. Tapi setelah itu kita lupa, tidak mendesak pemerintah untuk melindungi kekayaan budayanya sendiri," kata Failasuf yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Pekalongan itu.
Namun, Failasuf juga belum percaya sepenuhnya jika label pada blouse batik megamendung itu adalah klaim sepihak dari negara Turki. "Itu kan belum dikonfirmasikan ke Turki. Siapa tahu itu hanya siasat si perajin batik atau si pemilik butik agar produknya laris," ujarnya.
Batik Cirebon - Kendati demikian, Failasuf meminta pemerintah merespons temuan pengguna Path itu dengan serius agar pencurian karya anak bangsa tidak terus terulang. Menurut dia, pemerintah pusat musti mendata seluruh produk budaya di daerah untuk dipatenkan.
"Kalau sudah dipatenkan di tingkat nasional segera diajukan ke UNESCO. Banyaknya anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk itu tetap tidak sebanding dengan besarnya kerugian jika produk-produk itu dicuri bangsa lain ," kata Failasuf.
Meski asli dari Cirebon, batik motif megamendung juga sering dibuat para perajin batik asal Kota Tegal. "Tapi sering saya kolaborasikan dengan motif khas Tegal," kata Muniroh, perajin batik asal Kelurahan Kalinyamat Wetan, Kecamatan Tegal Selatan. ( batik Cirebon )

Kamis, 08 Januari 2015

Batik Cirebon - Keindahan Batik dan Tenun Khas Nusantara

Batik Cirebon - Keindahan Indonesia, tidak pernah habis untuk di bicarakan. Negara yang terletak di Asia Tenggara ini memiliki banyak ras, suku budaya serta agama.
Indonesia negara yang turun-temurun mempertahankan kerajinan tangannya patut di perhitungkan di ajang kerajinan tangan dunia. Kain batik dan kain tenun contohnya yang sudah begitu melegenda.
Namun sangat disayangkan, di tengah daya saing antara batik-batik populer seperti Batik Solo, Batik Pekalongan dan Batik Cirebon, salah satu kain batik di daerah Indonesia mulai langka, yaitu batik kudus. Padahal Batik Kudus merupakan cikal-bakal dari batik pesisir. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, awalnya membantik dengan peralatan sederhana, lambat laun beralih ke industri.
Menurut Pembina Galeri Batik Kudus Miranti Serad Ginanjar, perlunya inovasi agar Batik Kudus diminati pasar perdagangan. Ia pun menyiasatinya dengan mengangkat batik cap.
"Karena Batik Kudus ini termasuk langkah kita berkonsentrasi ke batik-batik repro. Kita juga mengangkat batik cap, yaitu mengangkat kearifan lokal Kota Kudus. Seperti motif menara Kudus, kaligrafi, dan kretek, kapal kandas, dan Gunung Muria," ungkap Miranti.
Selain batik yang diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO, Indonesia juga memiliki kain tenun yang sangat indah, seperti kain tenun Bali dan Sulawesi Selatan.
Batik Cirebon - Di Bali, kain tenunnya sendiri bermula dari kain tradisi, yaitu kain Bebali. Di awal sejarah perkembangan batik di Nusantara, Bali dikenal salah satunya adalah kain Gringsing. Motif-motifnya diambil dari keindahan alamnya, seperti flora dan fauna.
"Awal mulanya sejak tahun 1991 bermula dari penciptaan ide air brush kalau di Bali biasa dikenal dengan kain ikat, dan air brush tersebut adalah teknik baru," ungkap Ida Bagus Adyana, selaku pemilik Rumah Tenun Ikat Putri Ayu.
Sedangkan di Sulawesi Selatan, kain tenunnya terkenal dengan nama Sutra Sekang. Sesuai namanya, bahannya sendiri terbuat dari 100 persen sutra.
Ketua Koperasi Tenun, Adi Kurnia, mengatakan, umumnya satu orang wanita mampu memproduksi kain tenun dengan panjang dua meter dalam sehari.
"Dari proses penjemuran sutra mulai dari yang normal hingga menjadi berwarna membutuhkan waktu satu jam, melalui pewarnaan alami dan kearifan lokalnya inilah kami tidak khawatir akan hadirnya saingan karena konsumen sudah sangat familiar dengan produk-produk serta bahan seperti ini," ujarnya.
Ingin lebih tahu keindahan batik dan tenun tersebut. Jangan lewatkan tayangan Idenesia di Metro TV pada Kamis 8 Januari 2015, pukul 22.30 WIB. ( Batik Cirebon )

Selasa, 06 Januari 2015

Batik Cirebon - Inspirasi Membuat Batik di Dapat Dari Ranting Pohon

Batik Cirebon - Pada artikel sebelumnya sering di tegaskan bahwa batik adalah seni yang ‘fleksibel’. Memang benar, layaknya sebuah lukisan, inspirasi untuk membatik pun bisa didapatkan dari mana saja. Kenapa kata-kata ini selalu ada pada setiap artikel ? Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan semangat anak muda untuk turut ambil andil dalam seni batik. Penegasan ini sangat penting sekali, generasi muda perlu mengetahui bahwa batik bukan seni kuno yang membosankan. Batik sama dengan seni melukis, namun medianya saja yang berbeda, dan kekhasan tersendiri dari batik adalah lilin/malam yang di gunakan untuk mewarnai batik. Inilah uniknya, di perlukan sumber daya manusia yang telaten dan teliti untuk membuat seni batik yang berkelas premium.
Ada sedikit hal menarik dari salah satu penggiat batik, ‘Rasa Raharja’. Kemaun Rasa Raharja patut untuk di apresiasi. Ia terus memutar otak untuk membuat batik yang tak lazim. Ia menemukan motif ini dari percobaan yang di lakukan berulang-ulang. Alasannya ia mau mencari dan menemukan teknik ini adalah guna mendapatkan nuansa baru yang tak lazim yang memang di cari banyak orang.
Batik Cirebon - Siapa yang menyangka, ternyata sepotong ranting beruas banyak mampu menginspirasi Rasa Raharja menemukan teknik membatik yang disebutnya teknik ‘gepyok’. Dari teknik tersebut, akhirnya batik itu disebut di beri nama ‘batik gepyok’.
"Batik ini terlahir dari eksperimen berulangkali guna mendapatkan nuansa baru  batik tulis ditengah keinginan mendapatkan batik bernuansa beda dari yang lazim ada. Lazimnya, batik dibuat dengan menorehkan lilin dengan canting, namun batik gepyok  dibuat dengan menyabetkan atau 'menggepyokkan' ranting pohon yang berlumuran lilin  ke kain," kata Instruktur aneka jenis keterampilan  di Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Latihan Kerja/BLK Kebumen, Rasa.
Batik Cirebon - Menurut Rasa gepyokan ini memunculkan kesan seperti lukisan abstrak. Semakin bagus bentuk rantingnya, batiknya pun semakin bagus. Kendati tak berambisi menjadikan batik sebagai lahan bisnisnya, karya batik Rasa sebagian besar dititipkan di sanggar seni milik adiknya di kota Semarang dan sudah banyak  dikoleksi para pecinta batik.  "Sering saat menonton televisi saya lihat di layar kaca muncul tokoh yang mengenakan  kemeja batik karya saya," ujar Rasa.
Alumni Sekolah Menegah Perkebuan Menengah Atas (SPbMA) ini mulai menjadi instruktur BLK tahun 1982, sebagai instruktur PHP (Pengolahan Hasil Pertanian). Seiring perjalanan  waktu, pria asal Semarang ini mampu melatih berbagai jenis ketrampilan selain PHP,  diantaranya membatik, menganyam,  sablon dan pembuatan taman. Didorong jiwa seninya,  Rasa berusaha keras menguasai aneka ketrampilan tersebut. ( Batik Cirebon )

Minggu, 04 Januari 2015

Batik Cirebon - Mempopulerkan Batik dengan Kreasi Sendiri

Batik Cirebon - Batik adalah kesenian tradisional yang menuangkan motif pada dasar kain dengan pola yang beraturan atau abstrak yang di tulis dengan lilin/malam panas. Batik kian populer seiring pengakuan batik dari dunia. Setelah itu, orang-orang mulai berbondong-bondong untuk mengenakan batik. Di Indonesia, batik tersebar di seluruh penjuru provinsi. Setiap provinsi memiliki motifnya sendiri dengan kekhasannya yang beragam. Maka dari itu, sulit untuk membandingkan batik yang satu dengan batik yang lainnya, karena mereka memiliki keunikan tersendiri.
Namun sangat di sayangkan, jika seni yang penuh makna dan berfilosofi tinggi ini harus hilang di makan waktu. Kita sebagai warga negara Indonesia tentunya harus tau cara melestarikan batik. Tentu kita bisa melestarikannya dari cara yang paling sederhana, yaitu mengenakan batik di setiap acara. Namun, alangkah lebih baik lagi jika kita menjadi pelopor atau pengrajin batik itu sendiri.
Untuk membuat batik memang di butuhkan ketelitian dan ketelatenan. Tidak cukup hanya itu saja, kesabaran dan seni di perlukan untuk mempercantik hasil dari batik. Namun, jika sudah mencintai batik sudah pasti, proses membuat batik adalah hal yang menyenangkan.
Batik Cirebon - Mempopulerkan batik dengan kreasi sendiri menjadi penting di saat semakin minimnya pengrajin batik. Batik adalah seni yang fleksibel, kita boleh membuat batik dengan rasa kita sendiri tanpa harus mengikuti pola klasik yang sudah ada. Karena pada dasarnya, batik adalah kesenian menulis motif pada selebaran kain, hal itu pula yang sebenarnya di akui oleh UNESCO.
Batik Cirebon - Anda bisa mengikuti menulis batik dengan mengunjungi sanggar-sanggar batik yang ada di Indonesia. Di sanggar batik memberikan anda kesempatan untuk ikut menulis batik. Dengan warganya sendiri mencintai dan ditambah dengan nilai plus mampu menulis batik menjadi kebanggakan tersendiri di mata asing, karena kita mampu mampu untuk membuat batik.
Tanpa edukasi menulis batik, generasi penerus penulis batik tentu saja semakin lama semakin hilang. Sangat penting jika judul di atas dapat terealisasi “Mempopulerkan Batik dengan Kreasi Sendiri”. Akan menambah generasi yang semakin mencintai batik. ( Batik Cirebon )

Sabtu, 03 Januari 2015

Apa Keunggulan Batik Trusmi (Batik Cirebon-an) ?

batik cirebon mega mendung

Batik yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia, pada dasarnya memiliki keunikan tersendiri dan bagus, dan beragam corak motif pun dimilikinya. Dengan demikian, batik-batik yang ada di daerah tidak bisa dibanding-bandingkan dengan motif dari daerah lain. Kekayaan tersebut patut untuk di syukuri, karena hanya Indonesia yang memilikinya.
Batik Cirebon umumnya bisa di klasifikasikan ke dalam kelompok Batik Pesisiran, tapi juga sedikit di pengaruhi sedikit unsur kelompok Batik Keraton. Ini karena, Cirebon memiliki dua buah keraton, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Hanoman. Saat ini, masih ada beberapa motif yang di kerjakan oleh masyarakat Desa Trusmi, salah satunya yaitu adalah mega mendung. Mega mendung memang menjadi icon Cirebon, dan menjadi salah satu motif yang paling banyak di minati.
Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan atau juga merupakan ciri khas yang dimiliki Batik Cirebon, adalah sebagai berikut:
Batik Cirebon bernuansa klasik tradisional, serta menyertakan motif wadasan (batu cadas) serta unsur ragam hias berbentuk awan (mega).
Umumnya bagian latar dasar batik memiliki warna yang lebih mudah di bandingkan motif garis utamanya.
  1. Bagian latar atau dasar kain nampak bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki pada proses pembuatan.  Noda dan warna hitam bisa diakibatkan oleh penggunaan lilin batik yang pecah, sehingga pada proses pewarnaan zat warna yang tidak dikehendaki meresap pada kain.
  2. Garis-garis motif pada Batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses Batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus untuk melakukan proses penutupan, yaitu dengan menggunakan cantik tembok atau bleber.
  3. Batik Cirebonan cenderung memilih sebagian latar kainnya dibiarkan kosong tanpa diisi dengan ragam hias berbentuk tanahan atau rentesan (ragam hias berbentuk tanaman ganggeng). Bentuk ragam hias tanahan atau rentesan ini biasanya digunakan oleh batik-batik dari Pekalongan.
  4. Memiliki warna dominan kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan warna dasar warna kain krem atau putih gading.
Ada sedikit hal yang unik, untuk kelompok motif Batik Cirebon Pesisiran batik ini sangat di pengaruhi oleh karakter masyarakat pesisiran yang umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh budaya asing.
Perkembangannya saat ini adalah pewarnaan yang lebih beraneka ragam dan menggunakan unsur warna yang lebih terang dan cerah, serta memiliki bentuk ragam hias yang bebas dengan memadukan unsur binatang dan bentuk-bentuk flora yang beraneka rupa.
Pada daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing yang singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan etnis (asimilasi). Sehingga Batik Cirebonan cenderung menerima pengaruh budaya luar yang dibawa oleh pendatang. Hal ini membuat Batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan penggunaan banyak warna.
Produksi Batik Cirebon-an pada saat ini terdiri dari Batik Tulis, Batik Cap, dan Batik Kombinasi Tulis-Cap. Pada tahun 1990-2000 ada sebagian masyarakat pengrajin Batik Cirebonan yang memproduksi dengan teknik sablon tangan (hand-printing). Namun belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah dikarenakan kalah bersaing dengan teknik sablon mesin yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar.
Pertumbuhan Batik Trusmi bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada beberapa yang dimiliki oleh pemodal dari luar Trusmi.

Jumat, 02 Januari 2015

Batik Cirebon - Pedagang Batik Beringharjo Capai Omzet Rp.10jt Perhari


Batik Cirebon - Berkah selalu di dapatkan para pedang di masa liburan seperti saat ini, tak terkecuali para pedagang di Pasar Tradisional Beringharjo Yogyakarta. Pengunjung silih berganti berdatangan di masa liburan, jumlah kedatangan pengunjungnya pun lebih ramai dari hari biasanya, alhasil para pedagang kebanjiram pembeli. Bahkan omzet mereka pun bisa di bilang sangat wow, tak tanggung-tanggung selama liburan mereka mampu mendapat omset hingga Rp. 5 – 10 juta per hari.
Sri Marno, salah seorang pedagang batik di los 10 selatan pasar Beringharjo Rena mengatakan, selama liburan rata-rata omset baik secara signifikan sekitar 50 sampai 100 persen di banding hari biasa. Keramaian sudah terjadi sejak menjelang hari raya Natal hingga saat ini.
Batik Cirebon - Dituturkan oleh Sri Marno, omset memang naik 50-100 persen. Rata-rata produk yang terjual perharinya bisa mencapai 100 lebih produk terjual. Memang wajar jika jumlah penjualannya melonjak, karena rata-rata pembeli sengaja membeli batik untuk di jadikan sebagai oleh-oleh. Mayoritas pembelinya itu ibu-ibu, tak sedikir pula remaka dan anak-anak turut serta membeli batik.
Jika di bandingkan dengan masa libur tahun lalu, masa liburan kali ini dikatakan lebih ramai pengunjung. Ini terjadi karena masa liburan ini berbarengan dengan perayaan Sekaten juga libur sekolah. Jadi kebanyakan satu keluarga bisa sekaligus membeli batik di pasar beringharjo.
Batik Cirebon - Dibanding tahun lalu, tahun ini terbilang lebih rame. Mungkin juga bisa di perkirakan karena banyak yang memilih libran di kota Joga karena tidak ada banjir maupun longsor.
Diperkirakan jumlah pengunjung di pasar tradisional Beringharjo masih akan terus membludak hingga akhir pekan ini. Sementara jumlah pengunjung akan kembali normal awal pekan depan, dimana masa libur telah usai dan siswa kembali berangkat sekolah.
Di katakan salah satu penjual di pasar beringharjo, hari sabtu maupun minggu bisa jadi sebagai puncak keramaian di pasar ini. Ia beralasan karena hari sabtu dan minggu adalah hari terakhir libur sekolah, sehingga banyak orang memanfaatkan hari ini untuk berlibur bersama sanak keluarga untuk membeli batik. ( Batik Cirebon )

Batik Cirebon - Lutik Kreasi Batik Baru, Dari Bayat Klaten Jawa Tengah

Batik Cirebon - Produk khas batik bayat, Klaten, Jawa Tengah, sudah sejak lama di jadikan kain batik lurik. Kain tersebut menjadi kebanggan untuk masyarakat dari Klaten Jawa Tengahy. Kain jenis ini di produksi menggunakan kain yang dihasilkan Alat Tenun Bukan Mesin(ATBM). Produk ini di harapkan mampu bersaing dengan corak kain batik dari Yogyakarta dan Solo.
Kendala permodalam sempat membuat produksi batik ini lesu, perlahan namun pasti, batik Lurik dari Bayat kembali mengangkat kepopuleran corak kain batik ini. Saat ini di Bayat muncul inovasi corak kain batik “Lutik” yang artinya kepanjangan dari Lurik Batik. Jika biasanya kain batik Lurik hanya tampil polos tanpa motif apapun dan juga dengan warna-warna gelap, lutik ini tampil sedikit berbeda denga berbagai corak dan warna yang lebih cerah. Jadi perbedaan yang jelas terlihat dari kain Lurik biasa ini terlihat pada corak dan kecerahan warnanya.
Batik Cirebon - Salah satu gerai batik di Bayat yang menyediakan jenis kain “Lutik” adalah Batik HR. Gerai batik yang terletak di Jl. Bayat Cawas, Bayat, Klaten, ini memproduksi kain Lutik dengan berbagai corak dan warna yang cerah. Ada dua jenis Lutik yang diproduksi Batik HR, yakni cap dan tulis. Untuk jenis Lutik tulis tidak ada motif khusus seperti yang biasa terdapat pada kain batik pada umumnya. Menurut Dian (27), staff Batik HR, motif Lutik yang diproduksi gerainya adalah abstrak.
Batik Cirebon - Motif batik yang telah tenggelam pun bisa kemudian di bangkitkan kembali dengan kreasi dan inovasi para pengrajin. Tanpa menghilangkan identitas lurik, pada contoh ini di beri motif dan warna yang cerah menarik minat pencinta batik untuk mengkoleksinya. Hal ini penting untuk terus menghidupkan batik di masa depan. Batik yang di kenal sebagai seni yang fleksibel tidak melulu harus mengikuti aturan atau batik tradisional, tetapi sedikit merubah dan rasa modern tentu menjadi nilai lebih.
Di butuhkan semangat dari kaum muda untuk mau menjadi penerus pengrajin batik yang sekarang sudah semakin menua. Tanpa penerus, seni batik akan semakin tergerus oleh waktu. ( Batik Cirebon )