Rabu, 12 November 2014

Batik Cirebon - Pengusaha Solo: Batik Jokowi di APEC Gaya Yogya

batik cirebon

Batik Cirebon - Penampilan Presiden Joko Widodo yang menggunakan baju batik dalam lawatan perdananya ke luar negeri di forum APEC di Beijing Cina mendapat sambutan positif dari pengusaha batik di Solo. Para pengusaha berharap batik bisa semakin dikenal oleh masyarakat dunia.
Wakil Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan Solo, Gunawan Muhammad Nizar mengatakan bahwa batik yang dikenakan Jokowi dalam lawatan tersebut bercorak parang. "Dihiasi dengan ceplokan motif peksi (burung)," katanya, Selasa 11 November 2014.
Batik Cirebon - Menurutnya, batik yang digunakan oleh Jokowi tersebut merupakan batik gaya Yogya. "Terlihat jelas dari warnanya yang putih," katanya. Sedangkan batik gaya Solo biasanya didominasi soga atau warna gelap serta kuning gading.
Gunawan mengatakan bahwa batik motif parang memang banyak berkembang di Solo dan Yogya. "Perbedaan paling jelas memang di masalah warna," katanya. Selain itu, motif parang dalam batik Yogya memiliki ukuran lebih besar dibanding batik asal Solo.
Meski demikian, Gunawan mengatakan bahwa pengusaha batik di Solo tidak merasa kecewa meski Jokowi yang berasal dari Solo justru mengenakan batik Yogya. "Kami sudah cukup gembira karena presiden sudah ikut mempromosikan batik ke luar negeri," katanya.
Dia beralasan bahwa pada saat ini para perajin batik sudah tidak berpatokan pada kedaerahan. "Banyak perajin di Solo yang membuat batik gaya Yogya," katanya. Sebaliknya, para perajin di Yogya juga banyak yang memproduksi batik gaya Solo. "Tinggal mana yang sedang laku di pasaran," katanya. (batik Cirebon)

Minggu, 09 November 2014

Batik Cirebon - Batik Tradisional Paoman di Minati Amerika

Batik Cirebon - Batik tradisional khas daerah Pantura Paoman, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, semakin diminati pasar Amerika bahkan sudah menembus Italia dan Jerman.
"Batik tradisional dengan corak khas daerah Pantura Indramayu, Jawa Barat, semakin diminati pasar Amerika, setiap bulan kiriman terus berlanjut," kata Sudarto, salah seorang perajin batik Pooman di Indramayu, Minggu.
Dia mengatakan, batik tradisional dengan bahan pewarna natural dan kain sutra lembut diminati pasar Eropa, kini batik tersebut digemari warga Amerika, terutama motif pesisir khas Indramayu.
Batik Cirebon - Kini perajin bisa mengirim sekitar 500 lembar kain setiap bulannya, sebelumnya paling hanya 300 lembar kain.
Menurut dia, permintaan ekspor untuk kain batik tradisional khas Indramayu mulai terasa meningkat sekitar awal tahun 2009, kini pasar Eropa dan Amerika menjadi andalan bagi perajin di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Harapannya serapan pasar tetap tinggi sehingga gairah usaha tersebut bertahan.
Kerajinan batik lokal dengan pola pembuatan manual, kata dia, mampu serap tenaga kerja lokal sehingga mampu mendongkrak ekonomi Kabupaten Indramayu, kini sentra batik terus berkembang meski masih jauh ketinggalan olah Cirebon yang telah milik kampung batik.
Sejumlah perajin batik di daerah Pantura Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengaku pertahankan pewarna natural untuk memproduksi batik tradisional sehingga diminati pasar lokal dan ekspor.
Murdanto, perajin batik tulis Paoman Indramayu kepada wartawan di Indramayu, Sabtu, mengatakan, warna alam dipertahankan oleh perajin karena merupakan warisan nenek moyang mereka, selain itu diminati oleh konsumen lokal dan pasar ekspor.
Keunggulan pewarna baik natural, kata dia, mudah mendapatkan bahannya karena pesisir utara Indramayu melimpah berbagai jenis pohon yang dibutuhkan. Menurut Mur, butuh keterampilan juga ketekunan perajin sendiri untuk menggunakan pewarna alam tersebut.
Ia menambahkan, pewarna sintetis lebih mudah, mudah dan cepat karena tersedia ditoko penjual obat pewarna batik, namun pewarna alam harus kreatif perajinnya.
"Batik tulis berbahan nabati harganya cukup tinggi dibandingkan yang menggunakan pewarna sintetis, karena proses pembuatanya cukup rumit dan butuh waktu panjang,"katanya. (batik Cirebon)

Sabtu, 08 November 2014

Batik Cirebon - Mengenal Sosok Apni Amalia, Puteri Batik Dermayu 2014



Batik Cirebon - Apni Amalia baru saja dinobatkan sebagai Puteri Batik Dermayu 2014, bersama dengan Ayatullah Gumelar. Keduanya mengungguli finalis lainnya pada malam Grand Final Pemilihan Putera-Puteri Batik Dermayu 2014 yang diadakan di Gedung Panti Budaya Indramayu pada malam minggu tanggal 1 Nopember 2014 lalu. 

Apni Amalia, gadis manis yang masih duduk dibangku kelas XII SMA Negeri 1 Kandanghaur ini menyingkirkan finalis lain yang rata-rata adalah mahasiswa setelah melewati beberapa tahapan penilaian. Siswi SMA Negeri 1 Kandanghaur ini mampu menjawab pertanyaan juri dengan lugas pada sesi presentasi dan tanya jawab.

Batik Cirebon - Sistem penjurian Putera-Puteri Batik Dermayu dilakukan dengan terbuka dan transparan mulai dari etika, public speaking, pengetahuan tentang batik, penyampaian presentasi dan tes wawancara juga kepribadiannya pada saat mengikuti karantina. 

Kegiatan karantina sendiri diikuti sejak hari Rabu 29 Oktober 2014 sampai hari Sabtu sebelum pengumuman finalis. Setelah dirinya tahu di masuk finalis, maka dia langsung berlatih koreografi untuk acara malam Granf Final PPBD. 

Sehari-hari Apni sebagai pelajar SMA yang harus berangkat lebih awal ke sekolah karena takut terlambat datang ke sekolah. Apalagi lokasi rumahnya lumayan jauh dari tempat tinggalnya di Sukamelang Kecamatan Kroya, dengan menempuh perjalanan sekitar 20 - 25 menit menggunakan sepeda motor. 

Apni sendiri termasuk siswi yang supel senang bergaul dengan teman-temannya, enak diajak ngobrol, ceplas-ceplos seperti kebanyakan pelajar lainnya. Dia sudah dewasa dalam berpikir karena sudah lama ditinggal oleh Ayahnya. Kini Apni bisa membuktikan kepada dunia bahwa pelajar dari pelosok desa pun bisa bersaing dalam hal apa pun dan dengan siapapun, demikian ia tulis dalam status facebooknya. (batik Cirebon)

Jumat, 07 November 2014

Batik Cirebon - Putra Putri Batik Nusantara 2014 Sebarkan Virus ke Generasi Muda




Batik Cirebon - Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2014 bukan hanya sebagai ajang melestarikan budaya batik nusantara, tetapi juga untuk membangun jiwa kewirausahaan yang mumpuni para generasi muda. Hal tersebut disampikan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (28/09/2014).
"Ajang PPBN 2014 bukan untuk sekedar tampil memperlihatkan batik sebagai budaya bangsa Indonesia yang merupakan bagian dari ekonomi kreatif saja, tapi juga melahirkan wirausaha di bidang batik," terang Sapta.
Batik Cirebon - Hal senada diungkapkan Rieke Caroline yang merupakan Putri Pariwisata Indonesia 2009. Ia menjelaskan, bahwa PPBN 2014 bukan hanya sebagai ajang mempromosikan batik dan mempresentasikan batik yang dipakai setiap harinya. Tetapi, panitia juga mengadakan workshop mengenai proses membantik.
"Karantina kami itu lebih mengajarkan untuk menjadi generasi muda yang memumpuni. Artinya, dalam kelas-kelas yang kami berikan itu ada wawasan batik nusantara, batik konvensional, dan program pariwisata. Selain itu, peserta juga dinilai mengenai ketrampilan membantiknya di museum tekstil," ujar Rieke yang juga merupakan salah satu founder Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN).
Rieke menambahkan, sebelum memasuki malam puncak, seluruh finalis telah dibekali beragam budaya, seni, psikologi dan akting. Sebab, ketika finalis terpilih menjadi pemenang, mereka memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan fesyen batik di semua lini di lingkungan masyarakat, baik itu pekerja profesional, kantoran, entertainmen dan banyak lagi.
Peserta diharapkan bisa menyebarkan virus kepada generasi muda untuk menggunakan batik sebagai kebutuhan fesyen sehari-harinya. Para finalis PPBN bisa mengembangkan penggunaan batik sebagai gaya hidup dengan kaos, busana santai, busana resmi maupun yang lainya.
Konferensi pers jelang malam final PPBN 2014 tersebut juga dihadiri Ketua Ikatan Pecinta Batik Nusantara Ayu Dyah Pasha, Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata Esthy Reko Astuti, Ketua Panitia Pemilihan Putra-Putri Batik Nusantara Tantie Koestantia, Puteri Pariwisata Indonesia 2009 Andara Rainy Ayudini, dan Public Communication Specialist JNE Kuncoro Jati. (batik Cirebon)

Kamis, 06 November 2014

Batik Cirebon - Wanita Ini Mengubah Desa TKW Menjadi Desa Batik

Batik Cirebon - Banyaknya perempuan Kabupaten Kendal Jawa Tengah, yang menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri, membuat Sri Lestari (34), warga Jambearum Patebon Kendal, prihatin.
Berangkat dari keprihatinannya tersebut,  wanita yang bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan ini, mencoba mengurangi banyaknya perempuan Kendal menjadi TKW. Salah satunya dengan memberi keterampilan pada ibu-ibu yang ada di desa Jambearum Patebon.
“Apalagi dengan adanya berita 2 TKI yang dibunuh di Hongkong. Ini sangat mengerikan,” kata Lestari, Kamis (6/11/2014).
Batik Cirebon - Lestari menjelaskan, hampir setiap rumah yang ada di desanya, Jambearum, selalu ada keluarganya yang menjadi TKW. Hal itu sangat memprihatinkan. Apalagi, anak-anak yang ibunya menjadi TKW, menurut Lestari, lebih cenderung kurang terurus.
“Saya prihatin dengan kondisi itu. Lalu saya mencoba memberi pelatihan ketrampilan pada ibu-ibu yang ada di desa Jambearum,” ujarnya.
Awal pelatihan yang diberikan untuk ibu-ibu, adalah menjahit. Sebab ada salah satu warganya yang bisa menjahit. Namun karena tidak ada mesin jahit untuk mendukung pelatihan, lalu diganti menjadi pelatihan membatik.
Kebetulan, pada tahun 2010, di Dinas tempat Lestari bekerja, ada program pelatihan membatik. “Yang ikut, awalnya cuma satu ibu bernama Asri. Tapi, kemudian saya dengan Asri mengumpulkan ibu-ibu yang lain, untuk member ketrampilan membatik,” akunya.
Hasilnya, cukup menggembirakan. Sebab ada banyak ibu-ibu yang tertarik untuk menekuni ketrampilan membatik. Apalagi, pemerintah Kabupaten Kendal, sedang giat-giatnya memperkenalkan batik Kendal kepada masyarakat.
“Sekarang di desa Jambearum, sudah ada 15 pembatik, 3 diantaranya penjahit yang membuat pakaian batik,” ucapnya.
Jambe Kusuma
Sri Lestari mengaku, cukup sulit menyadarkan ibu-ibu supaya tidak berangkat ke luar negeri untuk menjadi TKW. Namun begitu, ia akan terus berusaha, supaya niatnya untuk mengurangi TKW di desanya bisa berkurang.
“Niat yang baik, Insya Allah akan menghasilkan sesuatu yang baik. Untuk itu, saya akan terus berusaha,” tambahnya.
Lestari menceritakan, sekarang ini sudah ada beberapa TKW, yang pulang ke rumah dari luar negeri dan tidak mau berangkat lagi. Mereka memilih menjadi pembatik. Apalagi, mereka sudah merasakan, hasil dari membatik. “Tapi masih banyak juga, yang pulang lalu berangkat lagi menjadi TKW,” akunya.
Batik buah karya warga Jambearum itu, kata Lestari, diberinama batik Jambe Kusuma.
Lantaran ketekunan ibu-ibu dalam melestarikan kain yang menjadi citra kepribadian bangsa tersebut, April 2013 lalu, desa Jambearum di tetapkan sebagai desa batik oleh Dirjen Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jateng. Pasalnya, di desa itu, saat ini sudah terproduksi, berbagai batik.
Mulai dari berbagai jenis batik berikut motifnya, hingga pakain motif batik. Selain itu, juga pernak-pernik batik seperti, sapu tangan, tempat tisu, dasi, tutup nasi, taplak dan lainnya.
Batik buatan desa ini, sudah dijual ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan diekpor ke beberapa negara tetangga. “Memang sejak awal niat kami membatik sebenarnya untuk mengurangi warga Jambearum untuk jadi TKW dan meningkatkan ekonomi keluarga. Jadi bukan untuk mendapatkan gelar Desa Wisata,” kata Sri Lestari, yang juga menjadi ketua Paguyuban Batik Jambearum.
Kegigihan Lestari dalam mengembangkan batik di desanya, juga mendapat perhatian khusus dari Bupati Kendal, Widya kandi Susanti. Sehingga ibu 2 anak ini, mendapat penghargaan Bupati Award.
“Tak hanya mendapatkan gelar Desa Wisata, Desa Jambearum juga dijadikan sebagai desa vokasi. Yakni desa yang bisa dijadikan tempat untuk belajar oleh desa lain,” kata Lestari.
Setelah mendapat berbagai gelar tersebut, desa Jambearum banyak mendapat bantuan. Mulai dari pemerintah Kabupaten hingga Dirjen Kementrian Pariwisata. Namun, diakuinya untuk berkembang sebagaimana desa wisata yang utuh, saat ini Jambearum masih sangat jauh. Sebab, belum terpenuhinya sarana dan prasarana yang layak untuk jadi Desa Wisata.
“Plang pintu masuk bertuliskan Desa Wisata Batik juga belum ada, Pengelolaan secara profesional sebagai tempat wisata juga belum dibentuk. Disamping itu, juga belum ada promosi akan desa ini, ke berbagai daerah maupun negara-negara lain,” akunya.
Dampak positif menekuni usaha batik, diakui oleh salah satu warga Jambearum, Sugiarti,( 32). Ia mengaku terbantu dengan adanya kegiatan batik yang ia tekuni. Sugiarti mengaku, dulunya ia adalah buruh pabrik, yang setiap hari meninggalkan rumah untuk bekerja di pabrik.
Namun setelah menekuni batik, kini ia bisa konsen di rumah dengan membatik. Satu batik tulis, yang ia hasilkan, bisa terjual dengan harga Rp 225.000-Rp 300.000 per lembarnya. Waktu pengerjaannya, sekitar 2-3 hari.
“Modal awalnya sekitar Rp 100.000-Rp 130.000 untuk satu kain batik. Jadi dalam sebulan saya bisa mengerjakan 10-12 kain batik tulis. Keuntungan saya Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per bulan,” akunya.
Keuntungan tersebut, menurutnya, jauh lebih baik kalau dibandingkan harus kerja di pabrik, atuapun kerja jadi TKW. Sebab kerja jadi buruh pabrik maupun TKW tidak bisa dekat dan mengurus pekerjaan rumah tangga.
Ia berharap kepada pemerintah membantu mempromosikan desa Jambearum sebagai desa wisata. Dengan begitu, batik yang dihasilkan oleh ibu-ibu Jambearum, bisa semakin banyak terjual. (batik Cirebon)

Batik Cirebon - Hidupkan Kembali Motif Batik Kuno

Batik Cirebon - Tingginya animo masyarakat terhadap batik, menginspirasi sejumlah pembatik anggota kelompok batik Keraton Kasepuhan, menghidupkan kembali motif batik kuno asli Cirebon.
Motif batik kuno yang bakal dihidupkan lagi yakni koleksi Keraton Kasepuhan dan kerabatnya.
Menurut Sultan Sepuh XIV Kasepuhan, sementara ini, inventarisasi yang dilakukan, belum sampai kepada koleksi batik kuno berusia ratusan tahun, milik Keraton Kasepuhan.
"Motif batik kuno, bukan hanya yang disimpan Keraton Kasepuhan tetapi juga milik kerabat keraton. Namun saat ini, upaya inventarisasi baru sampai yang dimiliki kerabat keraton," ujar Sultan Sepuh seusai
Batik Cirebon - kegiatan pelatihan teknis dan kewirausahaan UKM Kelompok Batik Keraton Kasepuhan yang digelar Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Rabu (5/11/2014).
Menurut Arief, sejumlah koleksi kain batik milik Keraton yang sudah berusia ratusan tahun diantaranya yang pernah dikenakan putri Ong Tien dan baju panglima dengan motif batik kaligrafi.
Dikatakan Arief, untuk menghidupkan motif batik kuno, bukan upaya mudah. "Selain pembatik harus menguasai teknik melukis, membatik dan pewarnaan dengan warna alam, pembatik juga harus menelusuri nama atau sebutan motifnya, baik dari sumber primer maupun dari naskah-naskah lama," katanya.
Dikatakan Arief, upaya menghidupkan motif batik kuno, merupakan bagian dari upaya pelestarian peninggalan seni budaya asli Cirebon.
Asal usul batik Cirebon, katanya, bersumber dari keraton, yang kemudian menyebar luas ke masyarakat.
Hanya dulu, motif batik harus disesuikan dengan status atau kelas sosial pemakai dan acara atau kegiatannya.
"Prosesi tertentu juga harus dengan motif tertentu. Misalnya siraman, pernikahan, 7 bulan kehamilan atau kematian tentu motifnya berbeda sesuai dengan jenis prosesninya," katanya.
Sulitnya menghidupkan motif batik kuno diakui salah seorang pembatik, Asih Kurniasih. "Terutama menelusuri nama motif batiknya, butuh perjuangan tersendiri karena harus sabar, teliti dan cermat dalam mencari atau bertanya kepada sesepuh," katanya.
Batik Cirebon - Saat ini, katanya, kelompok batik Keraton Kasepuhan, sudah berhasil menginventarisir sejumlah motif batik kuno milik kerabat keraton.
Dua motif diantaranya bahkan sudah berhasil dihidupkan lagi. "Saat ini dua motif itu yakni naga utah dan kliwed, sudah mulai diproduksi," katanya.
Sementara itu, Community Development and Relations Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java, Sudaryoko menyatakan, pelatihan merupakan bagian dari pembinaan yang dilakukan PHE ONWJ.
"Pembinaan dilakukan berkesinambungan, bukan hanya pelatihan saja, namun juga suntikan motivasi dari para motivator dan pemasaran serta aspek lainnya," katanya.
Dikatakannya, sejarah sebuah produk budaya juga memiliki nilai tinggi, baik nilai ekonomi maupun bisnisnya.
"Tren saat ini, nilai sejarah sebuah produk budaya juga memiliki nilai ekonomi dan bisnis tinggi. Aspek itu yang kami sentuh," katanya.
Semua bentuk pelatihan, tambahan motivasi dan lainnya dilakukan, dengan harapan, dalam 5 tahun sampai 10 tahun ke depan, mereka sudah mandiri.
"Selain mandiri, mampu menularkan ilmu yang sama kepada kelompok lainnya," jelasnya. (batik Cirebon)

Minggu, 02 November 2014

Batik Cirebon - Ini Batik Tirta Intanpari Khas Karanganyar

batik cirebon
Batik Cirebon - Sayembara desain batik khas Kabupaten Karanganyar akhirnya memperoleh pemenang lomba dengan karya bertajuk 'Tirta Intanpari'. Aneka corak perlambang bangunan heritage, flora, fauna serta potensi wisata khas Karanganyar terangkum di karya ini.
Muhammad Qomar, pencipta karya Tirta Intanpari ini, merupakan salah seorang peserta sayembara yang berhasil menggabungkan desain batik konvensional dengan corak pesanan juri, yakni Candi Cetho dan Gunung Lawu. Pria asal Sroyo, Jaten ini juga berimprovisasi menyematkan corak burung derkuku dan air terjun di bidang kain berwarna dasar hijau. Selain dirinya, dewan juri menetapkan Tri Wulandari asal Sleman DIY dan Dina Sri Pratiwi asal Jaten Karanganyar, masing-masing sebagai juara II dan III.
Batik Cirebon - "Juara II dengan desain gambar candi Sukuh dan juara III dengan motif bergambar Candi Cetho. Semua pemenang menggunakan corak sesuai pesanan kami. Tapi masing-masing memiliki kualitas berlainan. Corak terbaiklah yang berhak meraih predikat juara I," kata Kabid Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Karanganyar, Eny Fauziah kepada 'KRjogja.com', Minggu (02/11/2014).
Ditambahkan, hasil karya Qomar tersebut bakal ditampilkan dalam gelaran fashion show duta wisata Karanganyar pada puncak acara HUT Karanganyar, pertengahan bulan ini. Oleh panitia, corak batik yang dihasilkan Qomar kemungkinan bakal direvisi, meski hanya di sisi pewarnaan saja.
Diceritakan Qomar, Tirta Intanpari diciptakan usai dirinya memperoleh bahan gambar dari sejumlah referensi. Kemudian dengan bantuan program komputer grafis, dirinya menuangkan simbolisasi Gunung Lawu, burung derkuku yang bermakna sebagai asal usul nama Karanganyar, air terjun sebagai potensi sumber daya alam, hingga ornamen-ornamen macam daun teh, candi cetho hingga pohon tebu.
Atas keberhasilannya, pria yang telah empat tahun menggeluti profesi sebagai desainer batik tersebut berhak mendapatkan hadiah sebesar  Rp 15 Juta dan piagam.  Sebagaimana diberitakan, 77 peserta mengikuti sayembara desain batik khas Kabupaten Karanganyar. Setelah diseleksi, 51 peserta lolos tahapan administratif. Kemudian tim juri memilih 10 nominator dari hasil desainnya untuk maju di ajang final. (batik Cirebon)

Toko Batik Indonesia - Ebatik Grosir Trusmi Cirebon Indonesia #banner-ebatiktrusmi-com.jpg

Toko Batik Indonesia - Ebatik Grosir Trusmi Cirebon Indonesia
Toko Batik Indonesia - Ebatik Grosir Trusmi Cirebon Indonesia

Sabtu, 01 November 2014

Batik Cirebon - Tips Memilih Baju Batik Kantor

Batik Cirebon
Batik Cirebon - Baju batik merupakan salah satu pilihan fashion yang tepat untuk wanita yang bekerja di kantor. Oleh karena itu memilih baju batik yang tepat dan bagus untuk dikenakan adalah hal yang penting. Secara tidak langsung hal tersebut akan berpengaruh pada penampilan dan daya tarik kamu. Berikut ini ada beberapa tips mengenai cara untuk memilih baju batik kantor yang tepat dan sesuai dengan selera kamu. Pertama, pastikan untuk memilih baju batik yang bermotif garis-garis. Baju batik dengan motif garis-garis merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk dipakai di kantor. Ada juga sebenarnya motif batik lainnya, yaitu motif bunga, namun motif yang satu ini lebih cocok digunakan jika kamu menghadiri acara pesta atau even saja, bukan untuk dipakai di kantor.
Perhatikan Padu Padan Warna Batik
Batik Cirebon - Kedua, perhatikan pilihan warna ketika hendak menggunakan batik tersebut. Pilihan warna sangat menunjang padu padan pakaian yang kamu kenakan tersebut. Baju batik sangat cocok jika dipadukan dengan celana kain yang berwarna gelap atau cerah tergantung warna atasannya. Jangan menggabungkan baju batik dengan celana jeans karena itu akan mengurangi nuansa pakaian batik yang kamu kenakan. Pilihan warna baju batik untuk wanita biasanya adalah warna yang cerah seperti warna hijau muda, pink, dan juga biru muda. Jangan memilih warna yang gelap karena warna gelap biasanya cocok dipakai untuk para pria.
Pilih Pakaian Batik yang Berkualitas
Ketiga, kenyamanan adalah hal yang penting dalam mengenakan pakaian batik ini. Oleh karena itu kamu harus memilih baju batik yang berkualitas dan tidak murahan. Memang untuk membeli baju batik yang berkualitas,kamu harus merogoh kocek lebih dalam lagi namun hal tersebut bukanlah sebuah masalah terutama jika kamu adalah orang yang mengutamakan kualitas ketimbang harga. Biasanya batik yang berkualitas memiliki ciri-ciri berikut, yaitu: nyaman dipakai, tidak mudah luntur batiknya ketika dicuci, dan kain jahitannya tidak mudah lepas-lepas. Memilih baju batik yang tepat juga akan memperpanjang usia pakaian itu sendiri sehingga kamu nantinya akan bisa menggunakan pakaian tersebut dalam waktu yang lama.
Keempat, usahakan untuk memilih batik yang menggunakan material halus. Mengingat kamu akan menggunakannya untuk pakaian kantor, pilihlah kain batik yang mudah menyerap keringat dan tidak membuat kamu mudah gerah ketika dipakai. Bagi wanita yang melakuakn banyak aktivitas di kantor setiap hari, mereka tentunya membutuhkan pakaian batik yang semacam ini. Itulah beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk bisa memilih pakaian batik wanita kantor yang tepat. Dengan melakukan beberapa tips diatas, kamu tidak akan lagi mengalami masalah ketika hendak memilih pakaian batik. Batik juga pada dasarnya merupakan salah satu pakaian yang menyimbolkan keindahan Indonesia. Jika kamu bangga dengan seni Indonesia, kenakanlah pakaian batik. (batik Cirebon)

Batik Cirebon - Pakai Batik Bisa Bikin Cantik

Batik Cirebon
Batik Cirebon - Siapa bilang mengenakan busana batik tidak cantik? Jika dikreasikan dengan baik, batik pun bisa menjadi busana yang elegan dan bisa diandalkan. Ini dibuktikan pada acara “Kreasi Batik Jambi 2014” di Jambi Town Square (Jamtos), sekitar pukul 15.00, kemarin (29/10). Lomba fashion show kreasi batik kemarin, memperebutkan piala Ibu Wali Kota Jambi Cup 2014. Peserta yang ikut cukup banyak, sekitar 100 putra-putri. Mereka utusan dari empat sanggar model di Jambi: All Star, Excell, Arman Manajement dan Angso Duo. Rata-rata peserta tampil memukau. Dengan lenggak-lenggoknya, peserta berhasil menarik perhatian pengunjung Jamtos.
Batik Cirebon - Lomba yang dibagi ke dalam tiga kategori itu -kategori A usia 4-7 tahun, B usia 8-12 tahun, dan C remaja 13-22 tahun-, menampilkan kreasi batik dalam beberapa jenis gaun ataupun dress.
“Selain ingin menampilkan bakat, saya ingin memperbaiki persepsi yang jelek tentang Batik Jambi. Ternyata mengenakan batik bisa tetap terlihat cantik dan elegan,” jelas Dita Ramadhani (17), peserta dari sanggar All Star.
Dita berpesan, bagi putra putri Jambi, nanti jangan lagi malu atau gengsi untuk memakai Batik Jambi. Karena batik merupakan corak atau ciri kita sebagai orang Jambi.
Ketua panitia Regina Natalisa menjelaskan, tujuan acara ini agar semua pihak lebih menghargai produk lokal. “Dan putra-putri Jambi lebih kreatif,” ujarnya.
Selain itu, ketua tim ke empat sanggar peserta lomba, Lyli Tandyo menerangkan, acara ini bisa dianggap sebagai tahap awal untuk melestarikan Batik Jambi. Selain itu, untuk menumbuhkan rasa cinta produk lokal, terutama bagi generasi muda yang kini mulai mencintai produk luar.
Batik yang di kenal sebagai pakaian tradisional sangat bisa untuk di kreasikan menjadi busana modern. Motif batik yang sangat nyaman dan lihat cocok di pakai di berbagai suasana. Batik memang sangat fleksibel. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk para pemuda untuk malu mengenakan batik. Semakin kita sering mengenakan batik maka kita juga turut andil dalam pelestarian batik. Kesejahteraan para pengrajin batik pun bergantung dari pasar konsumen batik. (batik Cirebon)