Jumat, 12 Desember 2014

Batik Cirebon - Kini Seni Batik Bermain di Luar Pakem Tradisional


lilin batik cirebon
Batik Cirebon - Seni batik kini tidak terpaku pada pakem tradisional seperti pedalaman dan pesisir. Justeru seni batik yang berani mengambil pakem di luar hal-hal yang bersifat tradisional kini banyak dicari orang. Sebut saja batik anti koruptor, batik ketidakadilan, batik permainan gaplek, batik gedung sate, kujang pamor, super hero dan sebagainya.
“Saya lebih suka bermain batik dengan gaya dan desain diluar pakem yang sudah ada. Menuruti imajinasi yang ada di kepala,” kata Mulyawan Kurnia S.ST, seniman batik sekaligus founder CV aa ade di sela Festival Batik Nusantara 2014.
Meski di luar pakem, justeru batik hasil karya Mulyawan, banyak dicari penggemar batik. Ratusan desain batik yang unik kini menjadi buruan para kolektor batik baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Kanada dan Nigeria.
Batik Cirebon - Selain bermain diluar pakem, Mulyawan yang akrab disapa Kang Mule juga memiliki karakter sendiri pada pemilihan warna kain. Ia sangat menghindari warna-warna gelap seperti hitam dan coklat tua karena mencerminkan pembodohan.
“Saya lebih suka warna-warna ceria dan berani, seperti warna pelangi, merah, kuning, biru, hijau dan lainnya karena warna ceria menggambarkan karakter cerdas dan dinamis,” lanjutnya.
Kang Mule sendiri sebelumnya pernah menjadi volunteer di Museum Teksil Jakarta. Pria asal Subang lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung tahun 2004 tersebut kini mencoba memberikan jasa kursus dan fashion batik. Juga menerima pesanan produksi kain batik, baju dan seragam batik baik komunitas maupun perusahaan serta membuka gerai di Blok M Plaza untuk melayani masyarakat.
Batik Cirebon - Ia mengaku awalnya terjun ke industri batik dan mengeluarkan brand rancangannya, setelah mengajar di Sekolah Desain Susan Budiharjo. Sambil mengajar, ia berpikir keras bagaimana suatu saat bisa terjun membuat karya sendiri.
“Saya ingin menjadi something di hidup saya, bukan hanya nothing. Kurang lebih setahun mengajar di sana, saya putuskan mulai membuat karya lewat merek aa ade,” tukasnya.
Harga kain batik rancangannya dibandrol mulai dari Rp150.000 hingga Rp3 jutaan per meter. Namun ada juga kain batik yang dilelang dan dibeli salah satu petinggi partai seharga Rp 30 juta bermotif anti korupsi.
Festival Batik Nusantara menurut Plt Kepala UP Museum Tekstil Jakarta Imron merupakan bentuk apresiasi terhadap batik sebagai karya seni nasional.
“Batik yang sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda kemanusiaan sejak 2 Oktober 2009 patut dijaga kelestariannya,” pungkasnya. ( batik Cirebon )

Rabu, 10 Desember 2014

Batik Cirebon - Desainer Kawinkan Teknik TieDye dengan Pewarnaan Batik


batik cirebon - teknik tie dye jepang
Batik Cirebon - Helen Dewi Kirana, desainer mode yang dikenal melalui merek B(i) batik ini, mencoba berinovasi dengan mengawinkan teknik (pengikatan) tie-dye asal Jepang, yang disebut shibori, dengan teknik pewarnaan pada kain batik.
Shibori sendiri sebenarnya mengkombinasikan berbagai teknik sederhana seperti melipat, mengikat, memelintir dan menjahit kain yang akan digunakan untuk mendapatkan corak yang cantik.
Rangkaian koleksi yang mengawinkan dua teknik dari dua negara ini merupakan koleksi dari label fashion terbaru Helen yang bernama NES by Helen Dewi Kirana | hdk, yang terdiri dari stola dan scarf.
"Jadi, saya menggunakan teknik pengikatan shibori, namun teknik pewarnaannya menggunakan teknik yang biasa diaplikasikan pada kain batik. Yakni, untuk mendapat satu warna tertentu harus melalui beberapa layer warna. Hasil warnanya jadi lebih eksotis. Bahkan saya menggunakan obat untuk batik yang saya beli di Pekalongan," papar Helen pada jumpa pers Peluncuran koleksi NES by Helen Dewi Kirana | hdk di Jakarta, Rabu (10/12).
Batik Cirebon - Teknik Shibori diaplikasikan ke kain dengan mempertimbangkan tidak hanya desain corak yang ingin ditampilkan, namun juga jenis kain yang digunakan agar hasilnya maksimal. Saat ini Helen mengaku masih menggunakan katun impor dari Italia, Jepang dan Korea, karena memang katun tersebut dinilainya paling pas untuk mengaplikasikan teknik shibori ini.
"Proses shibori ini tidak mudah, karena bila diikat terlalu keras kain akan menjadi rusak, namun kalau terlalu longgar mengikatnya polanya tidak akan sempurna," katanya.
Dengan begitu, dalam waktu 3 hari biasanya Helen hanya menghasilkan 25 stola. Ia mengaku butuh istirahat beberapa hari dulu hingga akhirnya memulai pengerjaan lagi. Hal itu dikarenakan setelah proses shibori biasanya tangannya merasa sakit dan pegal.
"Saya hanya dibantu dua orang di tim saya untuk melakukan proses shibori dan pewarnaan. Oleh karena itu, koleksi NES ini tidak bisa diproduksi massal," tandas Helen.
Batik Cirebon - Namun, walaupun tidak diproduksi massal, Helen tetap bercita-cita ingin mengembangkan koleksi NES dengan menambah pilihan produk.
Saat ini Helen mencoba untuk membuat stola yang multifungsi dengan menampilkan dua motif berbeda dalam satu stola. Sehingga, pengguna bisa memilih salah satu motif yang ingin ditampilkan dengan melipat stola menjadi dua. ( batik Cirebon )

Selasa, 09 Desember 2014

Batik Cirebon - Batik motif "Kepek" Gunung Kidul akan dipatenkan


Batik Cirebon - Pemerintah Desa Kepek, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mematenkan produk batik motif "Kepek" dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian warga.
Kepala Desa Kepek Bambang Setiawan di Gunung Kidul, Selasa, mengatakan motif Kepek merupakan batik bergambar manding atau petai cina muda atau dalam istilah Jawa dikenal dengan "Kepek".
"Motif 'Kepek' merupakan produk asli daerah kami," kata Bambang.
Batik Cirebon - Ia mengatakan motif ini sudah diproduksi meski berskala kecil. Nantinya setelah dipatenkan motif batik ini akan dikembangkan produksinya. Pelakunya ialah ibu rumah tangga dan masyarakat Desa Kepek yang berminat mengembangkan usaha batik.
"Nantinya akan ditingkatkan produksinya. Kami berharap, di Desa Kepek tumbuh industri batik sehingga pendapatan masyarakat meningkat dan pengangguran berkurang," katanya.
Bambang mengatakan nantinya motif Kepek akan menjadi baju perangkat desa, dan lembaga yang berada di desa dan dusun. Hal ini untuk memotivasi masyarakat memproduksi dan mencintai produk karya desanya.
"Gerakan di lapanagan atau memberikan contoh kepada masyarakat untuk menggunkan batik jenis ini," katanya.
Batik Cirebon - Selain itu, kata Bambang, pihaknya akan meningkatkan sumber daya manusia, agar produksinya meningkat dan berkualitas. Untuk memaksimalkan pengenalan produk, Desa Kepek juga akan membuat show room yang rencananya akan dibuka dikomplek balai desa.
"Keberadaan show room akan memiliki efek domino, yakni mengurangi pengangguran dan meningkatkan perekonomian masyarakat," kata dia.
Setiap daerah memang perlu memiliki motif batik tersendiri, hal itu di harapkan agar setiap daerah memiliki ciri khas batik. Setelah itu di harapkan agar pariwisata di masing-masing daerah batik dapat terus berkembang dengan ciri khasnya. Dengan mematenkan motif batik tiap daerah akan memliki nama sendiri atau dengan kata lain seolah-olah seperti branding. Seperti di batik trusmi Cirebon misalkan yang sudah begitu terkenal di Indonesia bahkan mancanegara.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Batik Desa Kepek Guntur Susilo mengatakan berbagai pelatihan yang melibatkan pihak ketiga sudah dilakukan secara berkesinambungan. Masyarakat kini telah memproduksi batik motif Kepek ini di rumah masing-masing. ( batik Cirebon )

Minggu, 07 Desember 2014

Batik Cirebon - Bule Ini Bangga Pake Batik Korpri


batik cirebon - bule memakai batik korpri
Batik Cirebon - Batik memang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Bahkan orang asing pun bangga menggunakannya. Seperti dalam sebuah foto yang beredar di media sosial
Dalam foto tersebut, seorang warga asing (bule) berpose dengan menggunakan batik lengan panjang. Di lehernya tersemat kalung yang sangat jelas terlihat karena kancing batik paling atas tidak dikaitkan.
Dia tersenyum sumringah dalam foto tersebut. Namun, tidak para pengguna media sosial yang melihat foto tersebut. Sebab, batik yang ia kenakan adalah batik dengan corak yang khusus digunakan para pegawai negeri sipil.
Batik Cirebon - Si bule menggunakan batik berwarna biru khas para pegawai RI (Korpri). Meski kebanyakan pengguna media sosial bangga dengan penggunaan batik oleh bangsa asing, namun menggunakan batik Korpri dianggap sebagai sesuatu yang lucu.
"Beginilah bule sok tau. Salah beli batik," tulis Maruli Gading Manurung yang memposting foto tersebut.
Hingga tulisan ini dibuat, foto ini hampir mencapai 100 kali share.
"Bule habis upacara hari Korpri," timpal komentar lainnya.
Batik Cirebon - Ada juga yang menganggap jika bule tersebut kemungkinan besar adalah guru bahasa asing di sekolah internasional di Indonesia.
Namun, belum diketahui siapa bule yang ada dalam foto tersebut. Bahkan lokasi pengambilan foto sepertinya tidak berlangsung di Indonesia.
Belakangan ini, batik memang semakin mendunia seiring dengan promosinya yang lebih gencar dari pada sebelumnya. Terutama setelah batik di akui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Selain itu, batik sudah bisa semakin merambah ke berbagai kalangan. Menurut sejarah, batik di klaim bukan hanya ada di Indonesia saja. Namun di belahan dunia lain juga terdapat batik, seperti afrika misalnya. Tokoh yang sangat terkenal 'Nelson Mandela' beliau di kenal sebagai bapak pecinta batik. Namun perlu di akui bahwa batik terlahir di Indonesia, ini yang patut di banggakan. Misi untuk menduniakan batik kian terasa semakin dekat, contohnya saja dalam artikel ini. Seorang bule dengan bangganya memakai batik korpri. Meski sebenarnya dia tidak tahu di pakai dalam acara apa batik tersebut di gunakan di Indonesia. ( batik Cirebon )

Sabtu, 06 Desember 2014

Batik Cirebon - Omzet Perajin Batik Pekalongan Turun 50%


Batik Cirebon - Omzet penjualan batik produk perajin di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, selama beberapa pekan terakhir turun sekitar 50 persen, karena dampak kenaikan harga BBM bersubsidi.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Kabupaten Pekalongan, Failasuf, di Pekalongan, Sabtu (6/12), mengatakan, bahwa kondisi perbatikan kini relatif lengang dan sepi pembeli, sehingga omzet penjualan batik turun hingga 50 persen.
"Naiknya harga bahan baku batik dan turunnya daya beli masyarakat terkait kenaikan harga BBM bersubsidi relatif berpengaruh besar terhadap usaha perbatikan," katanya.
Batik Cirebon - Menurut dia, naiknya harga BBM bersubsidi kini juga telah diikuti dengan kenaikan harga bahan baku batik, seperti kain dan obat batik hingga 10 persen.
"Kain sutra semula Rp 100.000 per meter kini naik sekitar Rp 110.000 per meter. Oleh karena itu, kami harus pandai berupaya bagaimana usaha kerajinan batik ini bisa tetap bertahan di tengah menurunnya daya beli masyarakat," katanya.
Beban usaha perajin batik agar bisa tetap bertahan, kata dia, tidak hanya karena dihadapkan persoalan adanya kenaikan harga bahan baku kain, obat batik, dan BBM saja melainkan juga naiknya tarif dasar listrik, pajak, serta upah pekerja.
"Biaya operasional batik kian banyak dan membengkak tetapi daya beli masyarakat menurun. Hal inilah yang harus dihadapi perajin batik bagaimana agar usahanya tetap bertahan," katanya.
Batik Cirebon - Menurut di, untuk mengatasi persoalan yang dihadapi pelaku usaha batik, pemerintah perlu memberikan konpensasi pada dunia perbatikan agar kestabilan usaha mereka tetap terjaga.
Dampak kenaikan bbm memang sangat terasa di berbagai sektor, tak terkecuali dalam sektor pembatikan. Kenaikan bbm juga ikut berdampak pada naiknya harga bahan-bahan baku batik. Selain itu juga di pengaruhi oleh menurunnya daya beli masyarakat. Hal itu di pengaruhi oleh kebutuhan pokok yang juga ikut melonjak. Dengan demikian penurunan omset batik sangatlah wajar. Namun, pengusaha batik harus berusaha mempertahankan keberlangsungan usaha batik demi melestarikan warisan budaya nenek moyang Indonesia.
"Kompensasi itu bisa berupa subsidi bahan baku. Kami berharap pada pemerintah mampu mengatasi persoalan yang sedang dihadapi pelaku usaha batik," katanya. ( batik Cirebon )

Jumat, 05 Desember 2014

Batik Cirebon - Belanda Bantu Identifikasi Batik Kuno Probolinggo


Batik Cirebon - Tim dari Museum Kota Probolinggo menggandeng Museum Tropen Belanda untuk melakukan identifikasi Batik Kota Probolinggo. "Sudah dua kali kami mengunjungi Museum Tropen di Belanda," kata Kurator dan Koordinator Museum Kota Probolinggo kepada Tempo di sela-sela acara Launching Motif Batik Kuno Probolinggo, Jumat, 5 Desember 2014.
Pihak Museum Kota Probolinggo sudah melakukan kerjasama dengan KITLV dan Museum Tropen dalam upayanya melakukan identifikasi batik kuno tersebut. Hasilnya, ada 152 motif batik yang berhasil teridentifikasi. "Kemungkinannya masih banyak motif batik kuno Probolinggo yang belum teridentifikasi," kata Ade.
Batik Cirebon - Ade mengatakan kajian sejarah terhadap batik sudah dilakukan selama lima tahun terakhir mencakup kajian referensi sejarah serta observasi. "Hingga kemudian kami menemukan poin yang menarik terkait batik Probolinggo," katanya.
Master Batik asal Jogyakarta, Yuke Setyoko Lenan, mengatakan kalau motif batik kuno Probolinggo tersebut merupakan batik rakyat jaman waktu itu. Dia mengaku belum pernah menemukan motif seperti itu. "Saya baru tahu Juli 2014 lalu," katanya.
Karakteristik motif batik Probolinggo ini berbeda dengan motif batik dari daerah lain. "Cukup sulit untuk membuat batik dengan motif kuno itu. Tapi bisa dikerjakan," katanya. Dia optimistik batik kuno ini bakal laku di pasaran meski harganya tinggi. ( batik Cirebon )

Kamis, 04 Desember 2014

Batik Cirebon - Muallaf 'Cinderella', Juragan Barbie Batik Penjara


Batik Cirebon - Sukses menjadi juragan arang tempurung kepala tak lantas membuat Lusia Efriani Kiroyan tinggi hati. Wanita yang dijuluki 'Cinderella from Indonesia' justru menjadi sahabat buat kaum marjinal.
Lulusan International Visitor Leadership Program (IVLP), California, AS dikenal memiliki jiwa sosial tinggi. Itu menurun dari sang ibunda. "Ini turun temurun dari nenek dan mamaku. Masa kecilku di Surabaya terbiasa dengan kegiatan sosial," ujar Lusi saat berbincangan dengan Dream.co.id di sela memberikan pembinaan kepada tahanan wanita di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Ia masih ingat betul ketika sang bunda gemar membantu gelandangan di jalan, untuk dibawa ke rumahnya yang sempit. Gelandangan itu dimandikan, kemudian diberi makan, hingga beberapa hari lamanya.
Batik Cirebon - Lusia mengaku sempat memprotes. Namun setelah diberikan pengertian oleh ibunya, dia mulai memahami jika itu bentuk kepedulian kepada sesama.
Kenangan itulah yang membuat Lusi mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan sosial. Lusi memiliki rumah belajar yang diberi nama Cinderella from Indonesia Center di kawasan Duta Mas, Batam Centre.
Nama rumah singgah itu diambilnya dari judul buku yang ia tulis sepulang belajar dari Amerika Serikat. Rumah belajar ini sasarannya melatih dan menumbuhkan kewirausahaan sejak dini untuk anak-anak panti asuhan, para single parent yang tidak mampu, anak jalanan dan para penyandang cacat tubuh.
Awalnya Lusia mengkhususnya untuk single parent, namun kini ia merangkul hampir semua golongan. "Tujuannya, biar ibu-ibunya saja yang bekerja. Anaknya jangan sampai turun ke jalan mencari makan," kata wanita yang terlibat di World Muslimah Award 2014 sebagai sponsor boneka versi hijab.
Ibu-ibu itu diberi pelatihan seperti membuat roti, cupcake, cokelat batik, es, dan boneka. Sementara, anak jalanannya diberi pelatihan seperti bahasa Inggris dan sebagainya.
Selain sibuk di lembaganya tersebut, Lusia juga memberdayakan para narapidana wanita di tiga rumah tahanan Batam dan Jakarta.
Batik Cirebon - Awalnya, Lusia suka menjenguk narapidana perempuan di Lapas dan Rutan Batam sambil memotivasi mereka, sejak 2012. Lama-lama, Lusi ingin mengajak mereka berbuat agar mandiri. Maka, dia mengajak para napi itu membuat baju batik untuk boneka ala barbie (Batik Girl).
Lusia turun sendiri mengajari para napi membuat bonela batik girl. Dream.co.id berkesempatan melihat Lusi menghabiskan waktunya bersama narapidana di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, Rabu 4 Desember 2014.
Batik Cirebon - Mengenakan atasan putih polos serta celana bahan bewarna abu-abu, Lusia menemui sekitar 40 narapidana wanita yang sudah sibuk di ruangan khusus untuk mengerjakan batik girl.
"Ada sekitar 40 di program batik girl ini, targetnya selama tiga bulan mereka menghasilkan sekitar 300 boneka barbie yang menggunakan baju batik dan tak lupa membawa angklung," kata Lusi yang menjadi mualaf pada 2003 silam.
Keramahan wanita ini disambut baik para narapidana yang serius dengan jahitan mereka, Lusi juga tak sungkan menjadi tempat curhat mereka.
Batik Cirebon - Bermodalkan kain perca, jarum jahit, benang dan lem perekat, para narapidana begitu piawai mengubah barbie menjadi cantik dengan busana batik hasil kreasinya. "Saya merekrut pelatih untuk melatih para napi selama 3 hari sebelum membuat baju boneka," imbuhnya.
Lusi mengatakan setiap baju satu boneka yang dibuat narapidana akan dihargai sekitar Rp 10.000. Untuk bonekanya sendiri, Lusi masih mengimpor dari China.
Kemudian dipakaikan baju batik, dikemas dan dijual dengan merek "Batik Girl" seharga Rp 100 ribu di Indonesia, serta Rp 150 ribu di Malaysia dan Singapura.
Bisnis ini dimulai sekitar 2013. Berawal saat Lusi mendapatkan dana hibah US$ 19.483 dari Kementerian Luar Negeri AS atas proposalnya memproduksi boneka seperti Barbie, namun berbaju batik untuk memberdayakan napi perempuan. ( batik Cirebon )

Rabu, 03 Desember 2014

Batik Cirebon - Malaysia Promosikan Baju Batik Kulit Durian



Batik Cirebon - Baju Batik Kulit durian dan produk agrikultur lainnya harus dipromosikan sebagai bahan baku untuk membuat busana nasional, seperti baju Batik. Demikian dikatakan Menteri Agrikultur dan Industri Pertanian Malaysia Sabri bin Yaakob, pekan lalu.
Kantor berita Xinhua, Minggu, 30 November 2014, menyebut bahwa tanaman dapat digunakan untuk membuat baju Batik, yang memiliki pola indah dan ramah lingkungan. Universitas Teknologi MARA, kata Sabri, telah memulai penelitian.
Batik Cirebon - Dia menambahkan, kulit durian dan mangga juga dapat digunakan untuk bahan baku baju nasional. Sabri berharap lebih banyak universitas dan institusi swasta di Malaysia, bisa turut melakukan penelitian serupa.
Malaysia yang menganggap Batik sebagai pakaian nasionalnya, telah mewajibkan semua pegawai pemerintah untuk menggunakan Batik setiap hari Kamis. Peraturan itu dikeluarkan Dirjen Departemen Layanan Publik, Tan Sri Ismail Adam, pada 15 Januari 2008.
Sementara Indonesia, yang juga menjadikan Batik sebagai pakaian nasional, menetapkan Hari Batik Nasional setelah UNESCO mengakui Batik sebagai warisan budaya dunia, pada 2 Oktober 2009. Kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009. ( batik Cirebon )

Batik Cirebon - Malaysia Promosikan Baju Batik Kulit Durian

Batik Cirebon - Baju Batik Kulit durian dan produk agrikultur lainnya harus dipromosikan sebagai bahan baku untuk membuat busana nasional, seperti baju Batik. Demikian dikatakan Menteri Agrikultur dan Industri Pertanian Malaysia Sabri bin Yaakob, pekan lalu.

Kantor berita Xinhua, Minggu, 30 November 2014, menyebut bahwa tanaman dapat digunakan untuk membuat baju Batik, yang memiliki pola indah dan ramah lingkungan. Universitas Teknologi MARA, kata Sabri, telah memulai penelitian.

Batik Cirebon - Dia menambahkan, kulit durian dan mangga juga dapat digunakan untuk bahan baku baju nasional. Sabri berharap lebih banyak universitas dan institusi swasta di Malaysia, bisa turut melakukan penelitian serupa.

Malaysia yang menganggap Batik sebagai pakaian nasionalnya, telah mewajibkan semua pegawai pemerintah untuk menggunakan Batik setiap hari Kamis. Peraturan itu dikeluarkan Dirjen Departemen Layanan Publik, Tan Sri Ismail Adam, pada 15 Januari 2008.

Sementara Indonesia, yang juga menjadikan Batik sebagai pakaian nasional, menetapkan Hari Batik Nasional setelah UNESCO mengakui Batik sebagai warisan budaya dunia, pada 2 Oktober 2009. Kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009. (batik cirebon)

Selasa, 02 Desember 2014

Batik Cirebon - Perajin Kembangkan Batik Bermotif Cerita Anak

Batik Cirebon - Perajin batik di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, membuat motif batik dari cerita anak dengan tujuan mengenalkan batik secara dini kepada anak-anak sekaligus melestarikan cerita rakyat.
"Kami melukis motif batik dari kisah cerita rakyat khususnya cerita anak-anak, seperti legenda Timun Mas," kata perajin batik sekaligus pemilik Batik Pohon, Suroso, di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan kisah Timun Mas tentang seorang ibu yang menginginkan seorang anak.
Batik Cirebon - Motif yang dibuat sesuai cerita tentang Timun Mas yaitu gambar seorang perempuan yang meminta anak kepada raksasa. Lalu, raksasa tersebut mengabulkan permohonan si perempuan tersebut melalui tanaman mentimun.
Proses pembuatan batik berbahan pewarna alami tersebut dimulai dengan melukis gambar cerita di atas kertas, lalu dilukis di atas kain dan dilanjutkan dengan pewarnaan.
"Lewat motif-motif yang dituangkan dalam kain ini bisa diceritakan tentang Timun Mas yang sudah dikenal secara luas sebagai cerita rakyat," katanya.
Tujuan utama pengembangan motif ini kata Suroso untuk mengenalkan batik lewat cerita rakyat kepada anak-anak. Cerita Timun Mas merupakan cerita rakyat dari Jawa Tengah.
Selain cerita rakyat Timun Mas, Suroso juga akan membatik dengan motif cerita rakyat lainnya. Pengembangan motif ini juga untuk mengembangkan kreativitas dalam industri batik.
"Kami berharap lewat kreasi ini anak-anak bisa mencintai batik, sekaligus melestarikan batik sebagai warisan dunia asal Indonesia," katanya. ( batik Cirebon )