Sabtu, 22 November 2014

Batik Cirebon - Terksan Megah dan Kolosal, Pamerkan Kostum Batik Sepanjang 300 Meter

Batik Cirebon - Banyuwangi Festival

Batik Cirebon - Megah dan kolosal menjadi padan kata yang pas untuk menggambarkan acara Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2014 yang digelar di Taman Blambangan, Sabtu (22/11/2014).
Tari Gandrung dan Tari Seblang yang diikuti ratusan penari sebelum parade busana yang menjadi puncak acara BEC 2014.
Karnaval ini dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, dihadiri Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, serta Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O Blake, melibatkan 800 orang lebih.
Penari yang menarikan Tari Seblang dan Tari Gandrung membawakan secara kolosal ditengah panggung besar berukuran 32 x 16 meter.
Sedangkan untuk peserta karnaval dikuti 120-an orang yang berdandan dengan kostum megah dan unik namun mengedepankan unsur etnik, yakni Seblang.
Batik Cirebon - Peserta karnaval berjalan sejauh 7 Km melewati jalur protokol Banyuwangi dan finish di depan Kantor Pemkab Banyuwangi. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, karnaval semacam BEC terus bermunculan di banyak kota.
Meski demikian, ada unsur pembeda yang membuat BEC menjadi karnaval yang pantas dibanggakan, yakni mengangkat unsur lokal untuk diperkenalkan ke dunia global.
"Sejak awal BEC pada Tahun 2011, kami setia mengusung tema lokal, itulah yang membedakan karnaval ini dengan karnaval di tempat lain. Kami membawa budaya lokal untuk disajikan ke dunia global," kata Anas.
Tahun 2011, BEC mengangkat tema lokal, Damarwulan. Kemudian pada edisi berikutnya mengangkat tema Barong dan berlanjut pada tema Kebo-keboan.
Pada BEC edisi ke empat, Pemkab Banyuwangi mengusung tema The Mistic Dance of Seblang, dengan tiga sub tema Tari Seblang, yakni, Seblang Olehsari, Seblang Bakungan dan Porobungkil.
Tari Seblang merupakan sebuah tarian ritual paling tua di Banyuwangi yang berkembang di Desa Olehsari dan Bakungan di Kecamatan Glagah.
Tari ini dimaksudkan sebagai usaha memperoleh ketenteraman, keselamatan dan kesuburan tanah agar hasil panen melimpah.
Batik Cirebon - Seblang sendiri berasal dari kata sebele ilang atau kesialan menghilang. Dan dalam gelaran BEC 2014, Tari Seblang diterjemahkan dalam bentuk desain fesyen yang unik oleh para desainer muda Banyuwangi.
"Semuanya dikerjakan anak muda Banyuwangi tanpa supervisi dari konsultan desain mana pun. Mulai dari penyusunan tema sampai proses eksekusi, semuanya oleh anak-anak muda Banyuwangi," imbuh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Yanuar Bramuda.
Pada gelaran BEC 2014, diawali dengan prosesi terjadinya Seblang yang dimainkan oleh 45 penari profesional dari Sanggar Sayu Sarinah, Olehsari. Usai prosesi Seblang disambung penampilan 48 penari Seblang Cilik.
Batik Cirebon - Sebelum defile para peserta The Mystic Dance of Seblang tampil, ditampilkan seorang Ratu Seblang “The Queen of Seblang” yang diperankan seorang model cantik dengan desain kostum by Irma Lumiga.
Irma Lumiga, desainer asal Banyuwangi yang kini berkibar di Pulau Dewata mendandani Ratu Seblang dengan menarik dan eksotik. Bajunya menggunakan bahan kain Batik khas Banyuwangi yang panjang gaunnya mencapai 300 meter.
Begitu panjangnya kostum The Queen of Seblang dibutuhkan 150 penari Gandrung untuk memegangi gaunnya. Usai penampilan Ratu Seblang, penoton yang berjumlah puluhan ribu disuguhi devile BEC 2014 yang dibagi dalam tiga tema, yakni Seblang Olehsari, Seblang Bakungan, dan Porobungkil.
Perhelatan The Mystic Dance of Seblang juga menampilkan 16 The Best BEC The Legend of Kebo-keboan atau BEC edisi 2013.
Di akhir gelaran ditutup dengan penampilan Barong Cilik dan penampilan Jebeng Thulik 2014 sambil mengusung poster bertuliskan See You Next BEC 2015 dengan Tema Kemanten Using. ( batik Cirebon )

Jumat, 21 November 2014

Batik Cirebon - 'Sekarjagad' Ingin Yogya Punya Laboratorium Batik

Batik Cirebon -Batik Yogyakarta yang di Pamerkan
Batik Cirebon - Ketua I Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) 'Sekarjagad', GBPH Prabukusumo berharap setiap kota dan kabupaten di DIY memiliki laboratorium batik yang dikelola secara profesional.
Harapan tersebut disampaikan GBPH Prabukusuma sebelum Diskusi Batik Cirebon, 'Pengaruh Hubungan Kekerabatan Kasultanan Mataram dengan Kasultanan Cirebon dalam Mewariskan Tradisi Batik' oleh tokoh batik Cirebon, H Komarudin Kudiya SIP MDs, di Aula Heritage Bank Indonesia lantai 1 Yogyakarta. Acara diselenggarakan PPBI 'Sekarjagad' dan dirangkai pameran serta bazaar Batik Cirebon, 21-23 November, pukul 09.00-16.00.
"Keberadaan laboratorium batik mampu meningkatkan kemampuan siswa, atau masyarakat luas untuk gemar membatik. Ini juga bisa membuka minat wisatawan, dengan 2-3 jam bisa membuat batik sendiri. Minimal syal atau saputangan. Hingga nanti, batik bisa dinikmati seluruh penjuru dan pelosok daerah," ujarnya.
Batik Cirebon - Laboratorium Batik, lanjutnya, merupakan komitmen semua pihak untuk mendorong agar batik betul-betul bisa jadi pakaian resmi tiap orang. Agar masyarakat bisa memahami bahwa lebih bergengsi jika menggunakan batik, bukan tekstil motif batik. Itu berkaitan dengan kearifan lokal dan kenyamanan dalam berbusana. Harus ditunjukkan bahwa batik itu luar biasa dan merupakan kebanggaan.
Komarudin mengungkapkan, hubungan kekerabatan antara Kasultanan Cirebon dengan Kasultanan Mataram berdampak pada perkembangan batik-batik yang mewarnai Cirebon, dan sebaliknya. Adanya ikatan pernikahan antara dua kesultanan tersebut tidak menutup kemungkinan mengakibatkan adanya pertukaran teknik produksi, ragam hias ataupun tenaga ahli dalam bidang perbatikan. ( batik Cirebon )

Batik Cirebon - Batik Hadipurwo Terus Dikibarkan

Batik Cirebon

Batik Cirebon - Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo untuk membangkitkan kembali kejayaan batik rakyat, terus digerakkan. Bahkan batik yang kini dijuluki sebagai batik Hadipurwo itu terus dikibarkan dengan menggelar berbagai promosi.
Promosi untuk mengenalkan batik Purworejo ini diantaranya dengan menggelar pameran. Termasuk yang dilakukan dalam pameran sehari di kompleks pendapat rumah dinas bupati setempat, Rabu (19/11/2014).
“Promosi ini akan terus kita lakukan di berbagai event. Bahkan jika tidak ada kesempatan, kita membuat event sendiri,” kata panitia kegiatan Drs Bambang Sadya Raharjo.
Batik Cirebon - Pameran yang digelar ini, menyertakan sejumlah pengrajin batik, termasuk diantaranya yang sudah membentuk kelompok. “Sekarang sudah banyak kelompok yang menekuni kerajinan batik. Terutama kelompok wanita,” jelasnya.
Kerajinan membatik ini di Purworejo bangkit kembali setelah dilakukan berbagai pembinaan oleh Pemkab di berbagai kecamatan. Para pembatik ini tumbuh melalui berbagai kelompok dan menarik konsumen melalui berbagai lini. Termasuk untuk seragam PNS. ( batik cirebon )

Kamis, 20 November 2014

Batik Cirebon - Desain Batik Mahasiswa Solo Menang di Taiwan

Batik Cirebon
Desain Batik Mahasiswa Solo Menang di Taiwan
Batik Cirebon - Dua mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta berhasil menjuarai kompetisi desain batik bertajuk Taiwan Excellence Batik Competition di Taiwan. Juara pertama diraih Sugeng Wijayanto, 22 tahun, mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni angkatan 2010, sedangkan juara kedua diraih Utsman Aminuddin Sulaiman, 22 tahun, mahasiswa Jurusan Kriya Tekstil angkatan 2009. Kompetisi tersebut dilakukan dengan mengirimkan karya desain sejak 28 Agustus hingga 29 September 2014.
Sugeng mengatakan, desain batik yang dia buat menggabungkan motif dan ornamen batik dari berbagai daerah di Indonesia. Dia menilai, desain batik tersebut menggambarkan kekayaan budaya Indonesia. Berbagai kreativitas yang ada dijadikan satu hingga menjadi motif batik yang baru. "Saya gabung dan kreasikan motif batik kawung, ornamen Madura, ornamen Kalimantan, dan motif geometris," katanya di kampus UNS Surakarta, Senin, 17 November 2014. "Selain dicetak di kertas, saya juga mencetaknya di kain mori dengan teknik sablon,"ucapnya. Sebagai pemenang pertama, dirinya mendapat uang tunai Rp5 juta dan sebuah ponsel pintar. (Baca : Buku-buku Penguat Sejarah Batik)
Batik Cirebon -  Sedangkan Utsman mengusung batik motif naga dan kinnari, yaitu makhluk surgawi berwujud manusia setengah burung dalam mitologi Hindu dan Buddha. "Kedua makhluk tersebut saya padankan dengan motif batik mega mendung,"katanya. Motif mega mendung adalah hasil akulturasi antara budaya Cina, Islam, dan budaya asli Indonesia. Motif batik yang dia buat menceritakan hubungan antarbudaya yang saling berdampingan, saling menguatkan yang dilambangkan dengan naga, dan bernilai luhur seperti sosok kinnari.
Ustman mengaku, hanya butuh waktu satu hari satu malam untuk membuat desain batik Naga Kinnari. Desainnya dominan warna oranye, yang menunjukkan kesenangan, keberanian, antusiasme, dan rasa percaya. Kemudian dikombinasikan dengan warna merah yang berani dan warna biru yang melambangkan ketenangan. Menurutnya, desainnya cukup sulit diwujudkan untuk motif batik tulis karena kerumitannya. "Lebih cocok untuk batik cap dan printing," ujarnya.
Menyadari karyanya diminati, keduanya berencana mengembangkan desain batik untuk pasar Indonesia. "Saya ingin menjadi desainer motif batik," kata Utsman yang mendapat hadiah uang tunai Rp2 juta dan sebuah tablet.( batik cirebon )

Rabu, 19 November 2014

Batik Cirebon - Pisang Bangkaran Jadi Motif Batik Barito Utara

Batik Cirebon
Batik Cirebon - Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, menetapkan pohon pisang bangkaran sebagai motif batik khas setempat.
"Batik motif pisang bangkaran ini merupakan salah satu dari tiga motif yang ditetapkan sebagai pemenang desain batik khas Barito Utara," kata Kabid Perindustrian pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Barito Utara, Roosmadianor di Muara Teweh, Selasa.
Menurut Roomadianor, motif pisang bangkaran ini berhasil terpilih menjadi juara pertama dengan nomor urut peserta pendaftaran lima atas nama Kurniati Effendi.
Batik Cirebon - Juara dua berupa motif seluang murik dengan peserta nomor urut empat, dan motif pasak bumi dengan nomor urut peserta tiga juga juara ketiga yang desain Tekay Effendi.
Khusus untuk motif pisang bangkaran, motif pendukungnya adalah modifikasi tanduk beaw dan ulat keket. Sedangkan motif batik Seluang Murik dan motif batik pasak bumi ini untuk motif pendukungnya adalah modifikasi tanduk beaw.
"Desain batik ini nantinya akan diproduksi menjadi baju batik khas Barito Utara pada tahun 2015 nanti, untuk baju seragam batik di lingkungan SKPD serta guru dan pelajar sekolah-sekolah serta perhotelan di daerah ini," kata dia.
Roosmadianor menjelaskan, motif pisang bangkaran ini merupakan pisang hutan dengan bentuk tundun dan buahnya kecil-kecil berwarna hijau, serta rasanya agak pahit atau kelat dan digunakan sebagai sayur-sayuran.
Untuk motif seluang murik merupakan ikan kecil khas air tawar di Sungai Barito yang terjadi musiman dan ditangkap secara massal oleh masyarakat, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Barito.
Sedangkan motif pasak bumi juga merupakan tanaman hutan yang mempunyai akar panjang nyaris sama panjang dengan batang pohonnya serta memiliki rasa pahit, namun akarnya memiliki khasiat obat tradisional dari para leluhur dan terpelihara sampai sekarang oleh masyarakat Dayak.
"Kita harapkan melalui batik dengan motif khas daerah itu dapat menjadikan satu kebanggaan daerah menggunakan produk asli ciptaan putra daerah, tanpa mengesampingkan batik dari luar daerah," jelas dia.
Rencanannya batik khas Barito Utara ini yang bertemakan rintik Barito akan di produksi wilayah Kalimantan Timur, sebab daerah ini belum dapat memproduksi batik khas daerah sendiri. ( batik Cirebon )
"Batik ini nantinya akan menjadi kebanggaan daerah dan salah satu produk unggulan khas daerah Kabupaten Barito Utara," tuturnya.

Senin, 17 November 2014

Batik Cirebon - Lestarikan Batik dengan Jalan Kaki

Batik Cirebon - Upaya untuk memo-pulerkan kain batik terus dilakukan. Termasuk di Gunungkidul. Sabtu (15/11) Dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul menggelar Festival Batik Carnival. Acara ini melibatkan siswa-siswa dari sejumlah sekolah.Menurut Kepala Disdikpora Gunung-kidul, Sudodo, konsep festival tahun ini berbeda. Panitia membebaskan peserta untuk berkreasi dengan kain batik. ”Ini bertujuan untuk menum-buhkan kreatifitas para pelajar dalam menggunakan kain batik,’’ kata Sudodo disela-sela karnaval.
Pelaksanaan festival ini melibatkan 15 sekolah. Ke depan, dinas akan men-jadikan acara ini sebagai agenda rutin dan melibatkan lebih banyak peserta. ”Harapan kami, ini menjadi ajang bagi generasi muda untuk mengembang-kan kreativitas,” terangnya.Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengapresiasi kegiatan mempoluperkan batik dengan cara jalan kaki. Dia berharap kegiatan ini menjadi ajang promosi dan pengenalan batik kepada masyarakat. ”Kalau di-gelar rutin akan lebih baik,” pintanya.
Batik Cirebon - Festival ini dilakukan dengan cara pawai keliling Kota Wonosari. Start dimulai dari Alun-Alun Wonosari, melintasi Jalan  Soegiyo Pranoto, Jalan Sumarwi, Jalan Ksatrian. Ratusan peserta memamerkan karya kreasi mereka dengan material batik.Masyarakat menyambut antusias pergelaran ini. Mereka menyemut di pinggir jalan dan tidak beranjak sampai acara usai.
”Tidak hanya sembarang batik, ada kreasinya. Apalagi melibatkan gene-rasi anak muda. Acung jempol buat panitia,” ucap Yanti Sugiastuti salah seorang penonton usai berpose dengan salah satu peserta karnaval. (batik Cirebon)

Sabtu, 15 November 2014

Batik Cirebon - Pecinta Batik yang Peduli Kaum Papa

Batik Cirebon - Sosok sederhana melekat pada diri Nelson Mandela. Meski tokoh anti-apartheid itu telah meninggal dunia, kesederhanaan dan kerendahan hatinya sebagai pemimpin tetap menjadi inspirasi.
"Bagi banyak orang, Nelson Mandela adalah ikon dan pejuang hak asasi manusia yang tersohor. Tapi, bagi mereka yang mengenal dekat beliau, Nelson Mandela adalah seorang teman yang rendah hati," kata George Bizos, pengagum berat Mandela yang akhirnya menjadi teman dekat sang tokoh. Itu disebabkan sifat rendah hati Mandela.
Bizos masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat satu Fakultas Hukum Universitas Wits di Kota Johannesburg saat kali pertama bertemu Mandela. "Kami bertemu dalam kongres pemuda ANC pada 1948," kenangnya. Saat itu dia mengenal Mandela sebagai tokoh yang tampan dan berpakaian rapi. Selain gaya berbusana, dia mengenang Mandela sebagai politikus yang vokal.
"Dia pembicara yang andal. Dalam kongres tersebut, panitia tidak menyediakan pengeras suara. Tapi, dia bisa dengan mudah membuat pidatonya didengar seluruh peserta kongres," lanjut Bizos. Usai pertemuan pertama itu, dia mengaku ketagihan bisa terus bertemu Mandela. Mereka lantas berteman. Apalagi, setelah itu, mereka sama-sama gigih memperjuangkan anti-apartheid di Afrika.
Batik Cirebon - Persahabatan tersebut masih tetap terjalin sampai saat Mandela menjabat presiden. Dalam kenangan Bizos, Mandela bukan hanya presiden rendah hati yang anti-apartheid. Dia juga sosok pemimpin yang peduli masyarakat miskin. Dia tidak segan menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan kaum papa. Bahkan, dia juga mendirikan yayasan amal yang peduli pada masyarakat miskin.
Lahir dari keluarga sederhana di desa terpencil, Mandela paham benar bahwa kekayaan tidak untuk dipendam sendirian. Maka, dia menggunakan hartanya untuk kepentingan banyak orang. Terutama untuk mendanai kampanye HAM dan meningkatkan kelayakan hidup masyarakat miskin. Dia pun tetap menjaga kesederhanaannya dengan hidup bijaksana.
Batik Cirebon - Di mata Amina Frense, putri mantan narapidana di penjara Pulau Robben, Mandela adalah inspirasi. Meski punya banyak harta dan tenar, dia tidak pernah mempedulikannya. "Dia tidak pernah berpikir bahwa yang dia lakukan untuk kaum papa dan kulit hitam membawa dampak luar biasa bagi dunia," ucap perempuan asal Afrika Selatan (Afsel) yang berprofesi sebagai jurnalis itu.
Nama besar tidak pernah membuat Mandela keblinger. Meski namanya sering menghiasi media dalam dan luar negeri, tokoh berjuluk Madiba (bahasa Xhosa untuk kata bapak) tersebut tetap sederhana. Batik tetap menjadi salah satu busana favoritnya. Dia juga tidak pernah menutup diri kepada orang lain. Karena itulah, dia punya begitu banyak teman dari berbagai lapisan masyarakat. (batik Cirebon)

Jumat, 14 November 2014

Batik Cirebon - Memodernkan Batik dengan Teknik Sablon

Batik Cirebon - Pembuatan wastra batik bisa dilakukan dengan menggunakan cara modern yang tetap mempertahankan ciri khas tradisional, seperti dengan sablon. Hal tersebut bisa menjadi metode untuk mempertahankan batik sebagai warisan budaya Indonesia dan pada saat bersamaan menghemat waktu produksi.
Contohnya adalah Sugeng Wijayanto (22), mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah, yang memenangi kompetisi merancang batik yang diadakan Taiwan Excellence. Ia menggunakan teknik sablon untuk membuat pola batik di atas kain.
”Bedanya, cat sablon saya ganti dengan malam cair. Jadi, tetap memenuhi persyaratan pembuatan batik,” kata Sugeng dalam acara pengumuman pemenang lomba di Jakarta, Kamis (13/11).
Batik Cirebon - Ia mengatakan, menggabungkan cara modern dan tradisional dalam membuat batik memberikan variasi baru yang menambah keunikan seni tersebut. Pada saat bersamaan, itu juga memberdayakan perajin batik.
Pertama-tama, pola dirancang dengan menggunakan komputer. Setelah itu, pola disablon ke kain sutra dan primis yang masing- masing berukuran 100 cm x 190 cm. Berikutnya, Sugeng dan seorang perajin batik yang dia pekerjakan, mewarnai kain-kain itu menggunakan alat bernama jegul. Alat ini berbentuk seperti pulpen logam yang bisa diisi oleh malam atau bahan pewarna. Keseluruhan proses pembuatan memakan waktu satu pekan.
Anggota dewan juri yang juga perancang busana batik Nonita Respati mengatakan, dalam membuat batik, pakem yang harus dipatuhi adalah menggunakan lilin malam sebagai perintang dan pewarna. Di samping itu, prosesnya juga harus menggunakan tangan. ”Kain yang dicetak dengan mesin bukanlah batik, tetapi tekstil bercorak batik,” kata Nonita.
Kompetisi merancang batik ini diadakan melalui Taiwan Excellence, sebuah program milik Taiwan External Trade Development Council (Taitra). Manajer Taitra Jakarta Wayne Lee mengungkapkan, Taiwan Excellence adalah pengakuan mutu bagus yang diberikan Pemerintah Taiwan. (batik Cirebon)

Kamis, 13 November 2014

Batik Cirebon - Mahasiswa UNS Juarai Kompetisi Batik Taiwan Excellence

Batik Cirebon

Batik Cirebon - Sugeng Wijayanto, mahasiswa tingkat akhir jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, berhasil menyabet juara 1 Kompetisi Batik Taiwan Excellence.
Desain batik buatannya yang memadukan motif batik kawung dari Jawa, dengan motif batik Madura dan sentuhan batik Kalimantan berhasil memikat para dewan juri ajang kompetisi yang digelar Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) yang merupakan lembaga di bawah Biro Perdagangan Luar Negeri (BOFT) Kementerian Ekonomi (MOEA) Taiwan. Dalam kompetisi ini, peserta dituntut untuk mendesain motif batik dengan campuran nilai-nilai Taiwan tanpa meninggalkan identitas batik sebagai budaya asli Indonesia. Karya peserta juga harus original dan mengedepankan kreativitas.
Inovasi Sugeng itu berhasil mengalahkan sekitar 100 orang peserta kompetisi yang digelar pada 27 Agustus—29 September ini. “Saya terinspirasi dari batik kawung. Orang yang memakai motif ini bisa menjadi manusia yang andal dan bernilai. Dulu, motif ini dipakai di kerajaan dan merupakan cerminan pemimpin yang andal,” papar Sugeng, Kamis (13/11/2014).
Sebagai pemenang, Sugeng berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp5 juta dan gadget dari HTC.
Batik Cirebon - Batik menjadi tema pilihan kontes TAITRA tahun ini karena dianggap merupakan karya seni asli Indonesia. “Inilah kreativitas dan lihat apa yang kita dapatkan,” ujar Wayne Lee, manajer TAITRA di Jakarta.
Salah satu juri ajang tersebut, Nonita Respati, perancang busana dan pemilik Purana Batik, mengaku kaget dengan antusiasme peserta kompetisi ini. “Kami tidak menyangka pesertanya bisa banyak. Padahal, mereka harus menciptakan motif batik yang dikombinasikan dengan nilai-nilai TAITRA,” ujar dia.
Karya peserta harus original dan mengedepankan kreativitas. Nilai batik tidak boleh hilang meski harus dikombinasikan dengan nilai-nilai Taiwan.
Menurut Wayne, ajang kompetisi akan kembali digelar tahun depan, namun belum pasti apakah akan mengangkat batik lagi karena Indonesia kaya budaya dan seni yang harus dieksplorasi. Rencananya, batik karya Sugeng ini akan menjadi seragam pegawai TAITRA Jakarta.
Indonesia yang memang sebagai asal muasalnya batik sangat tinggi dalam hal kreatifitas batik. (batik Cirebon)

Batik Cirebon - Makna Baju Batik Parang Barong Jokowi di APEC


Batik Cirebon - Meski sekarang sudah diproduksi secara massal, batik motif Parang Barong tetap memiliki makna yang tinggi dan nilai yang besar dalam filosofinya. Kemeja batik ini sering dikenakan Presiden Joko Widodo, termasuk saat menghadiri acara Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Beijing, Cina.
"Dulu, motif Parang Barong khusus untuk para raja dan kerabatnya di Kraton Solo dan Jogja," kata tokoh perajin batik di Kabupaten Pekalongan, Amat Failasuf, pada Selasa, 11 November 2014. Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Pekalongan itu mengatakan, sesuai pakemnya, motif Parang Barong bukan diperuntukkan bagi masyarakat luas.
Namun, seiring perkembangan zaman, telah terjadi dekonstruksi dalam memaknai batik motif Parang Barong. Kini, banyak warga mengenakan batik yang konon merupakan salah satu motif paling tua di Indonesia itu. "Tapi motif itu dimaknai sebagai doa atau harapan agar filosofi kebesarannya menular ke pemakainya," kata Failasuf.
Pemilik Showroom Batik Pesisir di Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa, itu berujar, Jokowi sudah sepantasnya mengenakan busana batik motif Parang Barong. Sebab, jabatan presiden adalah kedudukan tertinggi dalam negara, sejajar dengan raja. "Meski Pak Jokowi bukan keturunan bangsawan dan bertubuh kurus," ujarnya.
Batik Cirebon - Seperti motif batik Parang yang lain, Failasuf menambahkan, Parang Barong tersusun dari motif menyerupai huruf S dan sambung menyambung sebagai gambaran gelombang laut. Bedanya, ukuran motif Parang Barong lebih besar dibandingkan Parang Rusak, Parang Klitik, dan Parang Slobog.
Menurut Failasuf, makna motif Parang pada umumnya adalah semangat yang menggelora. Khusus untuk Parang Barong, semangat itu berkelindan dengan kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam bertindak. "Persis dengan kepribadian Pak Jokowi," kata Failasuf.
Untuk membuat satu lembar batik tulis motif Parang Barong, Failasuf bisa menghabiskan waktu hingga tiga bulan. "Karena saya harus menjalani serangkaian proses ritual khusus dan sangat hati-hati. Tujuannya agar si pemakai batik itu benar-benar mendapat kebaikan sesuai dengan makna dan nilai yang terkandung dalam motifnya," ujar Failasuf.
Selama ini, pemesan batik motif Parang Barong dari Failasuf adalah kalangan bupati, wali kota, hingga sejumlah jenderal di Jakarta. Tapi Failasuf enggan membeberkan identitas para pelanggan batiknya maupun harga yang dibanderol untuk tiap satu lembarnya. "Yang pasti harganya jutaan rupiah karena itu bukan seperti batik pada umumnya," katanya.
Pebatik lain dari Kota Pekalongan, Harris Riadi, mengatakan motif Parang Barong diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. "Saya tidak berani berkomentar terlalu jauh tentang motif tersebut. Yang patut berkomentar itu Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X," kata pebatik yang tahun ini meraih penghargaan World Craft Council (WCC) Award of Excellence for Handycrafts. Selain Parang Barong, Harris mengatakan, Borobudur juga termasuk sebagai motif batik tertua di Indonesia. "Duta Besar Rusia, Michail Galuzin, terkagum-kagum dengan motif Borobudur yang saya bawakan dalam pertemuan beberapa waktu lalu," ujar pemilik showroom Green Batik itu. (batik Cirebon)